Perjalanan 1 Minggu ke Bangkok dan HongKong

Setelah beberapa minggu yang lalu pergi ke Batam, gue kembali ditugaskan oleh kantor tuk pergi ke Bangkok dan HongKong. Perjalanan ke Bangkok dalam rangka jadi panitia sekaligus peserta acara Payment Bank Gathering yang diadain kantor gue bareng-bareng 5 Bank Pembayar yang berperan dalam pasar modal Indonesia. Sedangkan perjalanan ke HongKong untuk ikut dalam training “Investment and New Capital Market Product”.

Begitu tau akan pergi berurutan Jakarta-Bangkok-HongKong, yang ada dalam kepala gue adalah “Duh, berapa gede ya koper yang kudu gue bawa” maklum, gue gak pernah pergi jauh dalam jangka waktu yang lebih dari 3 hari. Tapi akhirnya pertanyaan gue ini terjawab. Bacanya jangan berenti sampe abis ya :)

Mengatur perjalanan ke kedua negara ini ternyata gak mudah. Karena gue naik penerbangan tercinta kita yakni Garuda Indonesia, gak ada tuh penerbangan Garuda dari Bangkok ke Hongkong, dan kalo gue mau arrange Jakarta-Bangkok pake Garuda, Bangkok – Hongkong pake maskapai lain, dan Hongkong – Jakarta Garuda lagi, maka tiket penerbangan gue akan cukup buat beli lensa 70-200 f/2.8 IS. Hal ini karena dianggap sebagai endorse, penerbangan one way, yang harganya jauh lebih mahal.

Pilihan pertama adalah pake maskapai selain Garuda, gue bisa pake Cathay Pacific…… uhuy… keren kan? tapi ternyata gak sekeren dugaan awal gue, karena kalo pake Cathay, maka rutenya akan menjadi Jakarta-Hongkong-Bangkok-Hongkong-Jakarta, dimana gue jadi kehilangan 1 hari acara di Bangkok karena harus keliling dulu ke Hongkong.

Pilihan kedua pake maskapai Garuda Indonesia, rutenya : Jakarta-Bangkok-Jakarta-Hongkong-Jakarta. Iya, jadi gue akan kayak orang linglung, dari Bangkok yang udah deket ke Hongkong, gue balik dulu ke Jakarta, tuk terbang lagi ke Hongkong. Tapi ini pilihan terbaik buat gue, kenapa?

  1. Pake Garuda, artinya point GFF gue bertambah
  2. Pas pulang ke Jakarta, gue bisa pulang dulu, tuker koper, taro baju kotor dan isi dengan baju yang bersih plus naro oleh-oleh dari Bangkok
  3. Bisa ketemu anak dan istri di rumah dulu

 

Perjalanan ke Bangkok hari I

Hari Jumat tanggal 23 Nopember 2012 awal dari perjalanan panjang dimulai. Berangkat dari Bandara Soekarno Hatta Jumat pagi. Penerbangan Jakarta-Bangkok menempuh waktu sekitar 3 jam, ya kira-kira Jakarta Medan lah kurang lebih.

Setibanya di bandara Suvarnabhumi, ternyata cuacanya gak beda jauh sama Jakarta, mendung dan lembab. Bedanya, Bandaranya jauh lebih bagus dan bersih ketimbang yang kita punya hehehehe… Kemudian gue dan rombongan diantar pake sebuah Coach menuju Restoran Muslim Sophia yang menghidangkan makanan seafood halal. Di perjalanan ini gue ditawarin sama local guide-nya beli kartu simcard DTAC, bisa bebe-an 3 hari cuma Rp 70 ribu (dia terima IDR booo), dan gue pake DTAC ini selama di Bangkok buat bebe gue.

Kenyang makan, penat hilang, gue dan rombongan kemudian menuju MBK, sebuah mall seperti mangga dua di pusat kota Bangkok. Di MBK ini akan menjadi meeting point sebelum ke Madame Tussauds yang berada di seberangnya dan acara bebas belanja-belanja setelahnya, dan baru menuju Hotel untuk cek in dan beristirahat.

Di Madame Tussauds gue bisa foto-foto bareng patung-patung lilin yang dibuat sedemikian rupa sampe bener-bener mirip sama orang aslinya. Dan yang membanggakan adalah Patung Bung Karno ditempatkan di urutan terdepan dari patung-patung lainnya.

Puas foto-foto bareng tokoh-tokoh di Madame Tussauds, gue udah mulai kepisah dengan rombongan, tapi tetep bareng sama Dharma, roomate yang akan bareng selama di Bangkok. Kami pun menuju MBK tuk sekedar liat-liat. Di MBK mirip kayak mangga dua, banyak tukang jualan macem-macem, dari baju, mainan anak-anak sampe elektronik. Di MBK gue cuma beli kaos buat oleh-oleh dan makan malem.

Jam 8 malem, sebagaimana sudah disepakati, rombongan kemudian berkumpul kembali di emperan MBK untuk bersiap menuju Hotel Amari Watergate.

Setibanya di Hotel, proses cek in dan transfer in rombongan. Gue dan Dharma kemudian naro belanjaan yang kami beli di MBK di kamar dan trus kemudian langsung turun lagi tuk melihat-lihat suasana di sekitar hotel. Di seputaran hotel ada Mc Donalds, Starbucks, dan tukang-tukang jualan kaki lima yang  menjual buah-buahan kayak Nanas, Mangga dan Durian.

 

Setelah liat-liat, jajan nanas dan Mc D, gue dan Dharma balik ke hotel dan tidur, karena keesokan harinya acaranya cukup padat.

Perjalanan ke Bangkok hari II

Hari kedua dimulai dengan pergi Grand Palace, istana raja yang saat ini sudah tidak ditinggali lagi oleh Raja. Di dalam istana juga terdapat patung Emerald Budha. Kalo ngeliat bentuknya sie, istana raja-raja di Indonesia masih jauh lebih bagus.

Dari Grand Palace, gue dan rombongan kemudian berjalan kaki menuju sebuah dermaga di pinggir sungai Chaophraya. Dari situ gue dan rombongan akan diantar dengan sebuah boat menuju Wat Arun, sebuah candi peninggalan Raja.

Di tengah perjalanan, boat berhenti di pinggir sebuah kuil. Di situ banyak berkumpul ikan (seperti ikan patin), yang menurut kepercayaan masyarakat setempat, kalau kita memberi makan mereka dan ada ikan putih yang memakan makanan yang diberikan, maka bisa mendatangkan hoki, yah, paling tidak hoki buat tukang boat yang jualan roti per bungkus 20 Bath hehehehe…. Tapi gue sempet liat tuh ikan warna putih, semoga hoki deh, uhuy. Dari situ boat kembali melanjutkan perjalanan ke Wat Arun.

Nah, di Wat Arun ini, para penjual souvenir-souvenir-nya fasih berbahasa Indonesia, mungkin saking banyaknya wisatawan Indonesia yang ke sana. Proses tawar-tawaran menjadi lebih mudah :)

Dari Wat Arun, kami bergegas tuk makan siang, udah agak telat makannya. Kami makan di sebuah resto berpenampilan tradisional bernama Ban Kun Mae Restaurant, tapi yang makan disitu kebanyakan orang asing (termasuk kami). Resto ini mirip sama Resto Sophia, tapi masalah halal haramnya sie gak tau ya hehehehe… overall, makanan di Bangkok ini enak-enak.

Selesai makan, rombongan kemudian diwajibkan mengunjungi Germs Jewellery. Sebuah galery perhiasan milik anak raja, makanya wajib ke situ, kalo ngga, maka tour travelnya yang kena getahnya hehehe ternyata ya…. gak dimana gak dimana ;p

Liat-liat perhiasan yang cukup mahal gak membangkitkan napsu belanja gue, maklum bokek hehehe. Dari situ kemudian rombongan mengunjungi sebuah tempat jualan madu, di sini yang punya tempat presentasi mengenai khasiat madu dan gimana cara membedakannya antara yang asli dan palsu, lagi-lagi dengan bahasa Indonesia yang bisa dibilang cukup baik.

Rombongan mulai terlihat lelah dan mulai kelaparan (padahal baru makan di Ban Kun Mae ya ;p). Karena jam 8 rombongan akan nonton pertunjukan Siam Niramit, maka daripada kelaperan pas pertunjukan, rombongan makan malam dulu di Nathong Restaurant. Sebuah restoran seafood yang lagi-lagi pas di lidah. Kenyang dari makan malam rombongan pun segera meluncur ke Siam Niramit, sebuah gedung pertunjukan yang kabarnya terbesar di Asia Tenggara. Sayangnya di sini gak boleh foto-foto pertunjukannya, tapi kurang lebih mirip kayak pertunjukan di TIM lah, tapi efek pencahayaan dan tata panggungnya jauh lebih bagus dan dikerjakan secara lebih serius.

Pertunjukan Siam Niramit layaknya sebuah drama tanpa dialog yang bercerita tentang sejarah Thailand. Tapi aneh sie menurut gue, karena di tengah-tengah pertunjukan ada pesan moral tentang surga dan neraka mirip di komik Tatang S jaman dulu.

Setelah pertunjukan selesai, rombongan kembali ke Hotel dengan menggunakan Tuktuk. Bayangan gue awalnya tuktuk tuh kayak Bajaj, ternyata mesinnya lebih kenceng ketimbang bajaj dan sama abang-abang tuktuk-nya banyak dimodif knalpotnya pake knalpot racing yang bunyinya jadi mirip mobil-mobil gaul. Malam itu diakhiri dengan kebut-kebutan tuktuk dari Siam Niramit menuju Hotel.

(Sebetulnya ada kelanjutan cerita tentang malam itu, tapi gue sensor ya wekekekekekek).

Perjalanan Pulang ke Jakarta dan Pergi ke Hongkong

Besok paginya, setelah sarapan, gue sempet-sempetin tuk muter-muter seputaran hotel tuk liat-liat toko-toko baju. Gue nemu kaos buat anak gue dan jaket buat gue pake ke Hongkong. Kabarnya Hongkong lagi dingin di bawah 20 derajat.

Dari liat-liat pasar di deket hotel, beberes, dan kemudian ngacir ke Bandara tuk kembali ke Jakarta. Mungkin karena gue balik bareng salah satu bos di kantor, gue dapet duduk di deretan bangku paling depan, hampir mendekati kelas bisnis. Di depan gue bejejer orang-orang berkulit putih tinggi gede, kayaknya dari Secret Service Agent gitu, gak tau deh mereka ngawal siapa, tapi begitu sampe di Jakarta, mereka langsung dijemput di bawah pesawat.

Karena gue gak pake bagasi, gue langsung keluar dan kemudian naik ke atas tuk cek in buat pergi ke Hongkong, tapi karena baru jam 18:30 sementara penerbangan gue ke Hongkong masih jam 23:30, maka gue bisa pulang dulu setelah cek in :)

Setelah cek in, gue langsung ngacir ke parkiran mobil.  Yes, gue sengaja waktu hari Jumatnya bawa mobil dan parkir nginep di Bandara. Total Jumat sampe Minggu cuma Rp 128 ribu…. hehehehe murah meriah ketimbang naik taksi pulang pergi. Walaupun kudu rela mobil kepanasan keujanan (di rumah juga kepanasan keujanan sie).

Sejam kemudian gue sudah ketemu keluarga di rumah, lepas kangen sama mereka sambil nyiapin barang-barang yang mau dibawa ke Hongkong. Total cuma 2 jam gue di rumah, pesen Taksi tuk ke Bandara, yup walaupun lebih mahal ketimbang bawa mobil, tapi gue dah teler ngantuk banget, jadi daripada kenapa-napa di jalan, gue prefer naik taksi aja.

Sampe ke bandara (lagi), sekitar jam 22:30, masih cukup waktu tuk santai-santai, sambil dengerin lagu-lagu yang amat teramat tidak update di handphone, gak lama kemudian tibalah waktu Boarding. Penerbangan ke Hongkong akan ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam, cuma karena beda waktu, maka jadinya sekitar 5 jam.

Secape-capenya gue, ternyata gue gak bisa tidur di pesawat, yang ada kebangun-bangun melulu, dan puncaknya ketika jam masih menunjukkan jam 4 waktu Hongkong (yang artinya masih jam 3 waktu Jakarta), penumpang dibangunin tuk makan :p abis makan ya udah deh, gak bisa tidur lagi. Walhasil di pesawat mungkin gue cuma tidur sekitar 1-2 jam.

Sampe di Hongkong, selesai imigrasi dan lain-lain, gue langsung nyari pangkalan taksi, walaupun gue tau mahal dan jauh dari Bandara ke hotel tempat gue nginep yang ada di 2 pulau terpisah, tapi gue kudu ngejar training yang akan diadain jam 9. Sekitar jam 6an gue dah sampe di Hotel, total biaya naik taksi sekitar 330an HKD, mayan mahal kan? tapi ya udah gak apa-apa, toh bisa direimburse (ya iyalahhhhhh kalo gak bisa direimburse gue kayaknya akan naik train demi menghemat hehehehe dasar kismin).

Kebetulan trainernya udah pernah ketemu, ini ketiga kalinya gue ketemu dia, namanya Rajif, seorang keturunan India yang resident-nya di Singapore. Begitu denger gue baru nyampe, dia bilang dia akan membangunkan gue di sepanjang sesi training heheehehehe.

Training berjalan dengan amat lambat, ya kaleeee lambat karena gue pengen buru-buru tidur. Kenyataannya, begitu training kelar, bukannya tidur gue malah jalan bareng anak-anak kantor yang udah punya tenaga baru karena mereka udah sampe 1 hari sebelumnya. Bener-bener deh aji mumpung, manfaatin waktu luang yang cuma sedikit.

Agendanya malam itu adalah ke Causeway Bay, cari tempat makan yang jual makanan Indonesia dan halal ;p naik MTR (kereta bawah tanah). Gue beli tiket terusan buat turis, HKD 220 bisa pake segempornya selama 3 hari, plus gratis oneway ke Bandara di hari ketiga. Dari udara Bangkok dan Jakarta yang panas dan lembab, gue harus menghadapi udara Hongkong yang kering dan dingin.

Antara laper, dingin, cape, gue makan lahap banget deh malam itu.

Pic by Radyt

Setelah kenyang, dan melek karena minum teh tarik, gue dan 2 teman yakni Irfan dan Delon memutuskan tuk ke IFC mall, liat-liat Apple Store. IFC mall sendiri ada di Central, naik MTR gak jauh dari Causeway bay. Sesampenya di IFC mall, langsung ke Apple Shop. Wow… ada i-phone 5 dan ipad mini, tapi karena gue bukan pengguna keduanya, maka gue gak beli, liat-liat aja :)

Puas liat-liat apple store, kami bertiga berencana ke ladies market. Nah, pas mau ke station central itu gue nemu toko Giordano dan ngeliat ada jaket (semi) kulit yang lagi diskon. Gak pake mikir lama akhirnya gue beli tuh jaket :)

Pict by Radyt

Di ladies market gue gak beli apa-apa, eh beli deng, beli headphone abal-abal karena iseng dan bentuknya bagus, sementara Irfan dan Delon sibuk beli oleh-oleh.

Balik hotel dan tidur.

Hongkong Hari II

Training kembali di mulai sekitar jam 9, kami banyak membahas masalah investasi dan jenis-jenis investasi yang sedang berkembang seperti ETF dan Asset Back Securities. Oke-oke, gue gak akan nulis tentang itu di sini :)

Sekitar jam 17:00 training pun berakhir dan diakhiri dengan foto bersama.

Pict by Radyt

Agenda selesai training pun bisa ditebak, belanja lagi :) malam itu gue jalan cuma sama delon. Kita muter-muter di daerah Tsim Sha Tsui. Delon mau cari jam tangan buat istrinya dan gue mau cari lensa titipan Bos gue di kantor. Kedua barang ini kita dapetin dengan harga yang cukup bagus di situ. Dan lucky for us, di sebelah toko kamera juga ada toko suvenir, walhasil belanja suvenir deh sekalian buat oleh-oleh.

Dari Tsim Sha Tsui, kami pun meluncur ke Tung Chung mall. Gue mau cari toko Giordano yang kata temen gue murah-murah di sana. Ternyata Tung Chung tuh deket bandara, waduh… nyebrang 2 pulau deh, tapi gak apa-apa karena gak terasa kalo naik MTR.

Di mall ini gue belanja gila-gilaan, bayangin gue belanja sampe 1,400 HKD ….. tapi mayan sie, dapet potongan jadi cuma bayar 1,200 HKD plus dapat tas gratis senilai 200 HKD. Lengkap deh, belanja buat oleh-oleh dan buat sendiri kelar.

Hongkong hari III

Karena flight gue balik dari Hongkong masih agak sore, maka gue, Irfan dan Delon memutuskan mengisi hari ketiga tuk belanja lagi di Tung Chung. Selain mendekati bandara, juga karena ternyata oleh-oleh yang gue dah beli ternyata kurang. Huekekekekekek…. walhasil gue belanja lagi deh di situ.

Dari Tung Chung, ke bandara tuh ternyata cuma 2 station, naik Airport Express cuma 60 HKD, tapi karena gue pake tiket terusan, gue masih dapat gratis.

Kereta-nya bagus banget deh, kapan ya kereta begitu beroperasi di sini.

Sampe di Bandara, counter cek in Garuda ada di gate G. Cek in, imigrasi, dan kemudian terbang kembali ke Jakarta dengan sejuta rasa (halah).

-bierkof-

Bintaro 4 Desember 2012

 

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.