Perjalanan ke Hong Kong dan Macau [Bagian 1]

Tulisan ini latepost banget, tapi gak apa-apa ya daripada gak ditulis sama sekali :)

Perjalanan kali ini masih Abidin, setelah sebelumnya ke Taiwan, kali ini ke Hong Kong dan Macau. Abidin? iya Atas Biaya Dinas ;p

Kalau waktu ke Taiwan acaranya adalah ikutan seminar sekaligus diskusi bareng TDCC, kali ini agendanya adalah ketemu pejabat-pejabat Hong Kong Stock Exchange dan juga HSBC Hong Kong. Perginya bareng Asosiasi Bank Kustodi Indonesia.

Kami berangkat malam dari Jakarta. Jam 23:00 kurang lebih, diperkirakan sampai di Hong Kong keesokan harinya, ya iya masa hari yang sama ;) . Sesampainya di sana, kami bersih-bersih, cuci muka, sikat gigi, lap-lap yg perlu dilap pake tissue basah, trus sarapan. Dim Sum yang biasanya gue gak suka akhirnya dihabeg juga, laper booo walaupun jam 4 pagi udah makan di pesawat.

Setelah kenyang, kami pun berangkat ke The Peak, buat ke Madame Tussauds. Foto-foto bareng patung-patung lilin. Gak ada yg istimewa di sini, kalah sama yang di Bangkok yang ada patung Bung Karno.

Setelah puas foto-foto sama patung, lanjut cari makan. Kami pun dibawa ke sebuah tempat makan seafood berupa restoran terapung. Namanya Jumbo Kingdom. Makanannya enak, harganya gak tau karena dibayarin sama panitianya ;)

Kenyang, jalan-jalan seharian belum selesai, sambil menuju ke hotel kami mampir di Avenue of Stars, ya foto-foto lagi lah sambil ngopi-ngopi manis di pinggirnya.

Karena hari masih cukup sore, dan hotel tempat kami menginap cukup jauh dari pusat kota, kami mampir di ladies market ;p hehehehe…. di sini saya gak foto sama sekali, males ngeluarin kamera, bahkan foto pake kamera handphone pun juga ngga.

Dari ladies market kami akhirnya di antar ke Hotel.

[bersambung]

Posted in office and etc | Tagged , | Leave a comment

Masa Kini dan Masa Depan

Pelan tapi pasti ilmu yang meresap ke dalam pembuluh darah ini mulai mendarah daging. Tidak ada lagi kesempatan untuk bisa melepaskan segala akibat dari kenekatan belajar ilmu ini. Ilmu yang bagi sebagian orang merupakan ilmu yang kadang dijauhi banyak orang ternyata malah perlahan namun pasti justru semakin erat mempengaruhi hidup ini.

Heehehe.. lebay ah. Jadi ceritanya, setelah lega karena telah lepas dari segala beban tugas akhir dan berhasil menyelesaikan studi Keuangan, gue dengan nekatnya kembali menantang diri sendiri dengan mengikuti program sertifikasi Financial Planner di tempat yang sama.

Beberapa materi yang dibahas gak jauh beda dengan ketika gue ngambil kuliah. Bedanya, kali ini lebih praktikal, segala rumus-rumus yang dulu dipelajari cuma diambil yang kira-kira kepake aja dalam mengatur keuangan sehari-hari. Rumus mengenai time value of money menjadi sumbu dari segala hal yang dipelajari dalam program ini.

Singkat cerita, setelah beberapa minggu mengikuti program ini, gue mulai dong mempraktekkan ilmu ini. Mulai lah gue membuat segala proyeksi mengenai biaya sekolah kedua anak gue. Proyeksi berapa kira-kira biaya masuk SD buat si bungsu, berapa kira-kira biaya masuk SMP buat si sulung, dan begitu seterusnya sampai keduanya menginjak ke bangku kuliah S1.

Sudah bisa ditebak, justru karena mempelajari ilmu ini malah bikin gue gak nyenyak tidur. Bayangkan, bila segala asumsi yang gue buat berjalan dan sesuai, maka total biaya pendidikan kedua anak gue ini mencapai lebih dari ½ miliar rupiah. Itu baru biaya pendidikan formal, belum yang lain.

Tapi walaupun gue jadi gak nyenyak tidur, paling tidak, gue punya target baru, yakni gimana caranya mencukupi kebutuhan biaya yang luar biasanya gedenya ini. Nilai yang tadi gue sebutin di atas itu bisa disebut dengan future value, yang kemudian gue tarik ke masa sekarang kira-kira nilainya berapa, yang disebut dengan present value. Hasilnya? Tetap gue gak punya uang sebanyak itu. Trus? Ya terpaksa harus dicicil.

Mau tau gimana cara ngitungnya? Tunggu di tulisan berikutnya ya :)

-bierkof-

IDX Building, 26 Pebruari 2014

Posted in Finance | Tagged , , | Leave a comment

Jebakan Kelas Menengah

Sekitar 1 tahun yang lalu, gue pernah bikin paper mengenai bonus demografi. Bonus yang sedang dialami bangsa kita. Bonus yang juga pernah didapat oleh Jepang dan Korea pada beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi tulisan gue kali ini adalah rangkuman mengenai seminar yang kemarin baru aja gue ikutin atas undangan dari Kementrian Keuangan sebagai penyelenggara bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Apa itu bonus demografi? Bonus Demografi Indonesia yakni kenyataan bahwa 2/3 penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun.  Malah yang berusia 15-49 tahun, jumlahnya 55%. Bisa dibayangkan betapa Indonesia bisa sangat produktif.

Keadaan ini diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2030. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh McKinsey (2012), pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor 7 di Dunia.  Jadi masih ada sekitar 16 tahun lagi dimana Indonesia akan menjadi kekuatan baru ekonomi dunia.

Nah… masalahnya adalah apakah benar kita bisa mencapainya dengan segala resources yang kita miliki saat ini. Atau jangan-jangan kita akan terjebak menjadi negara yang selamanya menjadi negara dengan penduduk berpenghasilan menengah tanpa pernah bisa menjadi negara maju di bidang ekonomi (Middle Income Trap/MIT).

Keynote Speaker pertama, Bapak Darmin Nasution menyampaikan bahwa Pekerjaan Rumah terbesar supaya Indonesia tidak terjebak menjadi  MIT yakni:

  1. Human Capital
  2. Kelembagaan

Darmin Nasution menyampaikan bahwa pada tahun 1960, Korea Selatan kondisi Human Capitalnya tidak lebih baik dari Indonesia. Sekarang? Korea sudah menjadi kekuatan baru dunia.

Karena forum seminar ini adalah forumnya ekonom, maka kelembagaan yang ditunjuk oleh Darmin Nasution adalah PASAR. Pasar di Indonesia belum efisien, termasuk pasar keuangannya.

Keynote speaker berikutnya yakni Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional ibu Armida Alisjahbana juga menyampaikan hal yang kurang lebih sama dengan yang disampaikan Darmin Nasution.

Dan giliran keynote speaker ketiga yang paling gue tunggu, Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri.

Chatib Basri membuka dengan kenyataan bahwa Indonesia saat ini menghadapi defisit Current Account yang merupakan refleksi dari kelebihan permintaan. Solusi untuk mengatasi defisit ini ada 2 yang bisa segera dilakukan oleh Pemerintah:

  1. Menambah Penawaran (Supply)
  2. Mengurangi Permintaan (Demand)

Segala macam buku teks mikro/makro langsung terbayang dalam kepala gue mendengar Chatib Basri menyampaikan 2 hal tersebut di atas. Bagusnya Pak Menteri tidak membahas gimana caranya menggeser kurva permintaan…. Atau seberapa elastis kurva itu terhadap harga barang…. Hehehehe

Chatib Basri menyampaikan solusi cepat, yang bisa ditempuh olehnya karena memang dia menjabat menjadi Menteri Keuangan pada saat semuanya sudah menjadi runyam J

Menambah supply tentu bukan menjadi pilihan utama. Karena apa? Karena gak gampang. Main Clash of Clans aja kalo mau nambah supply gold kudu bikin dulu, nah ini supply untuk memenuhi konsumsi 1 negara… butuh waktu, tapi paling tidak ini akan menjadi prioritas menengah dan panjang.

Langkah yang paling cepat bisa dilakukan yakni mengurangi demand….

Nah ini yang suka gue twit kemarin-kemarin ini ketika gak ada angin gak ada ujan (halah) Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga hingga mencapai 7,5% padahal tingkat inflasi sudah mulai stabil setelah sebelumnya sempat bergejolak akibat kenaikan BBM. Jadi BI dan Kemenkeu melakukan pengetatan fiskal dan menaikkan interest rate untuk mengerem demand. Pedal Rem diinjak kuat-kuat. Wajar aja kalau terjadi overstir berupa turunnya IHSG dan nilai tukar mata uang kita ya walaupun ini kayak ngomongin telur atau ayam duluan yang hadir di muka bumi ini.

Solusi berupa pengereman demand di atas gak bisa dilakukan terus menerus. Karena akibatnya selain yang gue sebut di atas, pertumbuhan ekonomi juga akan berantakan. Padahal kan kita lagi mengalami bonus demografi.

Chatib Basri menyampaikan bahwa 5 s.d 10 tahun yang akan datang, harga komoditas akan turun akibat adanya penemuan-penemuan sumber energi baru. Bila ini terjadi, maka negara-negara yang tadinya sangat tergantung pada sumber energi menjadi less dependend. Artinya, eksport negara-negara penghasil energi akan menurun. Indonesia pun diramalkan pada tahun 2015 – 2020 akan menjadi negara tetap net importir BBM. Maka apa yang disampaikan Darmin Nasution seperti mendapat konfirmasi bahwa pembangunan human capital menjadi sangat penting.

Saat ini pemerintah sedang menggodok untuk memberikan insentif bagi sektor swasta yang melakukan Research and Development di Indonesia. Akan ada pengurangan pajak bagi yang melakukannya.

Selanjutnya seminar pun dilanjutkan dengan pembica-pembicara yang juga gak kalah kualitasnya. Tuk lebih jelas monggo bisa didonlot di sini.

-bierkof-

IDX building 10 Februari 2014

 

Posted in Finance | Tagged , , | Leave a comment

Bahagia yang Benar-benar Sederhana

Sepanjang hari ini, aku sudah banyak mengeluh.
Mengeluh waktu makan siang yang tertunda, waktu pulang kantor, hingga mengeluh tentang macetnya jalanan yang akan membuatku melewatkan acara “Snow Leopards of Leafy London” di salah satu saluran tv.

Bis kota yang aku naiki malam ini cukup penuh dengan manusia-manusia berwajah letih, dan raut wajah memandang kejauhan seakan sudah cukup penat dengan kesibukan hari ini. Namun di tengah perjalanan, mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 7 tahun, berdiri terhimpit diantara penumpang dewasa, dengan wajah penuh keringat yang sesekali diusapnya dengan tangannya yang kecil. ia berdiri disamping ibunya yang duduk menggendong seorang bayi, sambil mengipas-ngipaskan sebuah topi, yang tentu saja, hanya menghasilkan secuil angin.

Tidak tega melihatnya, aku memberikan tempat dudukku yang tepat di samping jendela. Dengan muka yang senang, Ia berterima kasih, lalu menikmati “seat” di samping jendela berbonus angin sepoi.

Dari sedikit obrolan dengan Ibunya, aku mengetahui bahwa mereka baru saja pulang mengamen. Saat libu sekolah seperti hari ini, ia membantu ibunya hingga malam hari sampai suaranya serak dan tak bersuara. Namun ia tak mengeluh. “Suaraku habis mbak, habis nyanyi keras-keras supaya dapet uang banyak,” katanya tanpa sedikitpun malu. Tak heran ia tampak sangat lelah. Bayangkan saja, anak kelas 2 SD harus mengamen hingga malam hari demi membantu kehidupan keluarganya. Rasanya tercekat saat aku mendengarnya.

Entah berapa banyak obrolan kurang pemting seputar kehidupan antara aku dan sang Ibu, hingga mereka sampai di tempat tujuan lebih dahulu. sebelum turun, anak lelaki itu berbalik badan, dan sekali lagi tersenyum lebar padaku sambil sekali lagi mengucapkan “Makasih ya, Mbak..”

Malam ini, aku hanya memberikan sebuah kursi di dalam bis kota. Namun kebahagiaan yang aku dapatkan kembali, tidak terhitung rasanya. Kebahagiaan akan menjadi diri sendiri, kebahagiaan dengan segala kecukupan yang diberikan Tuhan, dan kebahagiaan telah mengenal dan memberikan tempat duduk kepada bocah 7 tahun yang sudah lelah membantu kehidupan orangtuanya.

 

#Bliss

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Taiwan (2)

Hari kedua kunjungan kami ke Taiwan dimulai dengan membahas mengenai infrastruktur IT di Taiwan Depository and Clearing Corporation (TDCC). Banyak hal yang membuat kami berdecak terhadap infrastruktur yang digunakan oleh mereka. Salah satunya yakni mereka masih menggunakan bahasa pemrograman Cobol. Buat yang gak tau Cobol itu apa, hari ini hari lahir salah satu penciptanya sedang dirayakan :)

Setelah diskusi mengenai infrastruktur IT mereka, kami diajak mengunjungi Taiwan Stock Museum. Fyi, Taiwan sudah 100% mengimplementasikan perdagangan saham secara scriptless dan entah siapa yang memulai ide, saham-saham yang masih berbentuk kertas dan tidak digunakan lagi kemudian dijadikan semacam barang peninggalan bersejarah dan dimuseumkan. Sementara di Indonesia, entah kemana itu saham-saham yang sudah di-scriptless-kan. Di sini kami seperti dejavu dengan kondisi pasar modal di Indonesia sekitar 13-15 tahun yang lalu. Saham-saham dalam bentuk kertas bertumpuk-tumpuk menunggu diverifikasi dan diserahterimakan dari penjual ke pembeli. Mungkin kalau sekarang masih seperti itu, bisa 7×24 jam kantor tempat saya bekerja akan beroperasi menangani transaksi yang rata-rata per hari sebesar Rp 6,3 triliun. Museum ini bertujuan supaya generasi muda saat ini yang tidak pernah mengenal saham itu dulunya seperti apa bisa belajar.

Kunjungan ke Taiwan Stock Museum pun berakhir. Kami pun berpamitan kepada rekan-rekan di TDCC yang telah meluangkan waktunya untuk berdiskusi bersama kami. Agenda kami selanjutnya adalah jalan-jalann….. yipiiieee… Kami kemudian diantar seorang tour guide bernama Marion menuju Shifen Old Street. Sebuah perkampungan di daerah distrik Pingxi. Seperti hari pertama, Shifen Old Street juga berada di dataran tinggi, bedanya di sini tukang jualan mulai dari souvenir, makanan, hingga Seven Eleven ada! Tidak menyia-nyiakan waktu yg ada, karena sebagian dari kami akan pulang keesokan harinya kami pun menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh yang mudah kami bawa, mengingat koper kami sudah penuh dengan materi diskusi dan jaket yang cukup menyita ruang koper.

Setelah makan siang yang sedikit terlambat karena perjalanan ke sini ditempuh hampir 1 jam dari kantor TDCC, dilanjutkan dengan menyusuri gang-gang sempit di Shifen Old Street untuk berbelanja, kami pun kemudian turun ke Pinxi untuk menerbangkan lampion. Lampion yang kami terbangkan berukuran cukup besar hingga kami semua bisa menuliskan keinginan kami di lampion yang akan kami terbangkan :)

Hari pun mulai menjelang malam. Kami memutuskan untuk segera kembali ke Taipei untuk makan malam. Pilihan menu makan malam kami kali ini agak nyeleneh, yakni ayam cemani dibuat seperti soup. Rasanya gurih…. walaupun rada susah menelannya karena terbayang wajah mbah dukun di Indonesia yang gemar meminta persembahan ayam cemani :p

Setengah kenyang (karena jujur mulai sukar menelannya lagi), karena Bayu dan Radyt masih ingin berbelanja oleh-oleh kami pun mampir ke night market lagi hehehe… Night market yang kami kunjungi kali ini yakni Raohe St. Night Market ini berada tepat di belakang Ciyou Temple. Bayu dan Radyt pun kembali memuaskan hasrat berbelanja mereka di sini.

-bersambung-

bierkof, EV Bintaro IX

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Taiwan (1)

Perjalanan yang dimulai pada tanggal 25 – 30 Nopember 2013 ini merupakan kunjungan kerja mewakili perusahaan tempat saya bekerja ke Taiwan Depository and Clearing Corporation (TDCC),  Taiwan Stock Exchange serta menghadiri 9th Taipei Corporate Governance Forum. Dalam bayangan saya ketika akan berangkat, dengan melihat agenda yang cukup padat rasanya gak akan ada waktu untuk jalan-jalan. Plus dalam benak saya yang namanya Taiwan dan Taipei sebagai ibukotanya adalah kota yang terbelakang karena tekanan RRC. Ternyata, pihak TDCC yang mengundang kami ke sana sudah menyiapkan agenda wisata di sela-sela kunjungan kerja kami.

Sebelum berangkat, seperti yang saya tuliskan di atas, saya tidak punya bayangan apapun mengenai Taipei. Berkat google sana google sini akhirnya saya menemukan sebuah blog milik seorang Mahasiswi Indonesia yang sedang menyelesaikan Ph.D-nya di sana yakni www.tentangtaiwan.wordpress.com dari sini saya mulai mengeksplor mengenai Taiwan dan Taipei.

Perjalanan menuju Taipei ditempuh kurang lebih selama 6 jam penerbangan langsung dari Jakarta. Agak di luar dugaan, pesawat yang saya naiki milik maskapai Garuda Indonesia adalah jenis yang sama dengan ketika 1 minggu sebelumnya saya naiki dari dan ke Yogyakarta. Kebayang dong gimana rasanya pas lewat di atas Filipina :) tapi alhamdulillah perjalanan kami cukup lancar.

Sesampainya kami di AT Boutique Hotel yang berada di distrik bisnis Taipei, kami istirahat sebentar dan langsung memutuskan untuk looking around seputar Hotel. Ternyata tidak jauh dari Hotel tersebut ada sebuah night market yakni Tonghua/Linjiang Night Market. Saat tulisan ini saya buat saya masih belum tau nama night marketnya apa, tapi kira-kira ada di jalan Xin Yi Road, mudah-mudahan nanti ketemu kalau saya google, tulisan ini akan segera saya lengkapi dengan nama night Market tersebut. Night market yang tidak seberapa besar ini kebanyakan menjual makanan dan baju-baju, tidak banyak kami temui penjual yang menjual souvenir layaknya yang ada di ladies market di Hong Kong. Setelah liat-liat, mencicipi beberapa makanan yang menurut kami cukup enak dan halal, kami pun kembali ke Hotel untuk beristirahat.

Keesokan harinya kami mengunjungi TDCC sebagaimana telah dijadwalkan. Diskusi berlangsung cukup menyenangkan. Banyak hal yang bisa kami pelajari dari diskusi hari pertama ini. Rasanya kurang pas kalau hasil diskusinya kami tuliskan di sini. Cukup acara jalan-jalannya aja yang akan ditulis di sini ;)

Diskusi di TDCC dilanjutkan dengan lunch di sebuah restoran di belakang gedung TDCC. Makanan yang disajikan pun enak-enak, rasanya mirip-mirip masakan Indonesia. Mungkin biar ada bayangan, rasanya mirip-mirip yang disajikan di Din Tai Fung, yang belakangan baru saya tahu ternyata asalnya memang dari Taiwan :)

Selepas lunch, kami diantar ke 101 Building, tidak… tidak, bukan untuk belanja, tapi untuk mengunjungi Taiwan Stock Exchange (TWSE). Kami kembali berkutat dengan berbagai materi sharing session di 101 Building bersama TWSE.

Nah, setelah diskusi dengan TWSE selesai, baru deh kami diajak ke sebuah pegunungan. Namanya Xiayoukeng. Mungkin kalau di Indonesia mirip sama Tangkuban Perahu. Bedanya, di sini gak ada tukang jualan apapun… kalo di Tangkuban Perahu kan banyak tukang jagung bakar dan Indomie ehehehehe…. Suhu di sini cukup dingin, sekitar 13 derajat celcius, sayang sekali kan gak ada tukang jagung bakar? ;p

Di Xiayoukeng ini kami melihat semburan belerang dan juga beberapa danau yang kelilingi taman yang rasanya malah mirip taman-taman yang ada di negeri Jepang. Karena hari sudah menjelang malam, kami pun kembali di antar ke hotel setelah sebelumnya kami dinner di restoran Chousan. (mmmhh saya lupa, ada kartu namanya tapi ada di kantor).

bierkof, Bintaro IX

-bersambung-

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Reksadana Pilihan Bierkof Nopember 2013

Setelah melewati kurun waktu 10 bulan di tahun 2013, IHSG sebagai indikator kinerja investasi saham dan reksadana saham telah mengalami turbulensi yang cukup volatile. Hal ini terlihat dari pertumbuhan hingga bulan Oktober hanya sebesar 2,68%.

Hal ini pun terlihat dari kinerja Reksadana Saham dalam kurun waktu yang sama hanya terdapat 9 reksadana saham yang memiliki return di atas 10% ytd, yakni:

  1. Millenium Equity – 48,17%
  2. Pratama Equity – 32,37%
  3. Pratama Saham – 25,01%
  4. Dana Pratama Ekuitas – 21,14%
  5. Sam Indonesian Equity Fund – 20,84%
  6. Grow-2-Prosper – 14,81%
  7. HPAM Ultima Ekuitas 1 – 14,25%
  8. Archipelago Equity Growth – 13,92%
  9. First State Indoequity High Conviction Fund – 12,42%

Penulis penasaran sama Millenium Equity yang bisa bertumbuh 48,17% dalam kurun waktu 10 bulan. Reksadana ini dikelola oleh PT Millenium Danatama Indonesia pertama kali pada 2 April 2008. Minimum pembelian sebesar Rp 500 ribu dan minimum penjualan kembali sebesar Rp 500 ribu. Biaya pembelian dan penjualan maksimal 2,5% dan biaya pengelolaan sebesar 2%. Hingga September 2013, Asset Under Management (AUM) RD ini hanya sebesar Rp 9 miliar. Mmmhh… agak aneh sie, sepengetahuan penulis, aset under management suatu reksadana ditentukan minimal Rp 25 miliar. Hehehe.. ngga tau deh, penulis gak mau membahas hal ini, walk around ke yang lain aja yuk.

Oke, selain kinerja return 9 reksadana di atas, kayaknya kita juga harus liat siapa sie Manajer Investasi (MI) yang dana kelolaannya cukup besar. Kenapa? karena kalau suatu MI pegang dana kelolaan cukup besar, artinya dia “dipercaya” oleh banyak orang yang menitipkan investasinya lewat Reksadana tersebut.

Ternyata, dari 9 Reksadana Saham tersebut, cuma 4 yang AUM-nya di atas Rp 100 miliar. Siapa aja?

  1. Sam Indonesian Equity Fund dari PT Samuel Aset Manajemen – Rp 1,1 triliun
  2. Pratama Saham dari PT Pratama Capital Asset Management Indonesia – Rp 392 miliar
  3. First State Indoequity High Conviction Fund dari PT First State Investments Indonesia –  Rp 164 miliar
  4. Grow2-Prosper dari PT Corfina Capital – Rp 141 miliar

Sam Indonesian Equity bisa dibeli minimal Rp 250 ribu, Pratama Saham bisa dibeli minimal Rp 50 juta (huekekekek mahal amat brooo), First State Indoequity High Conviction Fund bisa dibeli minimal Rp 1 juta dan Grow2-Prosper bisa dibeli minimal pertama kali sebesar Rp 5 juta.

So, kalau kita type investor kecil-kecilan seperti layaknya Penulis, rasanya Reksadana Sam Indonesian Equity Fund bisa jadi pilihan investasi bulan ini :)

-bierkof-

Cluster EV, 5 Nopember 2013

Posted in Finance | Tagged | Leave a comment

Soulmate

Ketika membayangkan soulmate saya selalu membayangkan bundaran hitam dan putih pada gambar yin dan yang, serta manusia tanpa belahan jiwanya hanya memiliki salah satu: bundaran hitam saja atau bundaran putih saja, dan bundaran itu tidak akan lengkap tanpa separuh hitamnya atau separuh putihnya.

Salah seorang teman laki-laki saya di kantor menggunakan istilah: “mengumpulkan tulang yang berserakan”, karena menurut dia Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Dia juga berteori bahwa kalau kita berusaha meraba tulang rusuk kita sendiri, hanya terasa satu. Sementara kalau dibantu orang lain, barulah tulang rusuk itu terasa dua.

Pada umumnya seseorang percaya bahwa kita dilahirkan di dunia ini tidak lengkap. Bahwa kita harus mencari separuh belahan jiwa kita untuk menemani hidup kita di dunia. Dan bersama belahan jiwa kita, kita bisa bersinergis menjadi diri kita yang lebih baik lagi. There is only one soul mate, and he/she is the love of our life. Belahan jiwa tersebut ada di dunia ini, dan somehow kita akan bertemu dengannya, karena ada kekuatan tarik menarik gaib yang menyebabkan kita menemukan dirinya.

Benarkah?

Bagi beberapa orang yang mengaku telah menemukan belahan jiwanya, Selamat, Anda berada di antara beberapa orang yang beruntung yang bisa menemukannya. Lebih beruntung lagi bagi orang yang tidak hanya menemukan orang yang dianggap sebagai belahan jiwanya, akan tetapi juga dapat menjalin hubungan atau menikahi orang tersebut.

Namun bagaimana dengan orang yang belum menemukan belahan jiwanya?

Atau bagaimana dengan seseorang yang telah menemukan belahan jiwanya, namun tidak berbalas, atau tidak dapat menjalin hubungan karena suatu hal? Misalnya di Indonesia dengan norma-norma yang tidak meng-encourage pernikahan beda agama dan beda suku, atau bahkan pernikahan homoseksual.

Atau bagaimana dengan orang yang merasa telah menemukan belahan jiwanya, menjalin hubungan lalu berpisah karena tidak dapat berjalan dengan baik? Apakah itu bukan soulmatenya yang sebenarnya? Adakah soulmate lain yang menunggu di tempat lain? Apakah berarti orang itu mempunyai beberapa soulmate?

Apakah belahan jiwa benar-benar ada atau itu suatu mitos yang diciptakan, untuk meletakkan manusia pada pada pola kehidupan social yang dapat diterima masyrakat?  You know, agar manusia menikah dan hidup berpasangan, serta tidak memilih untuk  hidup sendirian selamanya seumur hidupnya?

Mungkinkah soulmate sama dengan kepercayaan jaman dahulu bahwa “kodrat wanita ada di dapur dan tidak seharusnya sekolah atau bekerja”, baru bertahun-tahun kemudian dibuktikan bahwa wanita dan pria sama-sama bisa bekerja di dapur, bersekolah dan mendapatkan penghasilan.

Mungkinkah soulmate sama dengan dongeng “Pangeran Tampan Yang Menyelamatkan Putri”? Sosok sempurna yang kita harapkan bisa temukan yang akan melengkapi kita dan membuat kita bahagia selamanya, untuk kemudian membuat kita kecewa karena tidak selalu berjalan semudah itu.

Saya sendiri masih mempercayai belahan jiwa itu ada. Efeknya saya merasa sedih, ketika semua orang tampaknya telah menemukannya dan saya belum. I keep beating my self, atau menghibur diri dengan “Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya”

Seiring berjalannya waktu, saya mempunyai beberapa dugaan mengenai soulmate.

Soulmate itu ada, tapi bisa diartikan dengan luas, dan dengan keterbatasan manusia, mungkin saja ada keterbatasan waktu yang menyertai soulmate-soulmate yang Anda temui seumur hidup Anda. Mungkin juga soulmate itu tidak hanya satu.

Ada soulmate yang berupa rekan kerja atau bos yang dengan dirinya kita bisa menghasilkan ide-ide yang kreatif dan hasil kerja yang luar biasa.

Ada soulmate yang berupa teman yang sudah berpuluh-puluh tahun bersama kita menemani kita melalui naik turunnya kehidupan atau teman yang datang dan menemani kita pada suatu periode singkat kehidupan.

Ada soulmate yang berupa pacar atau mantan pacar, yang datang mengajarkan kita banyak hal mengenai cinta dan diri kita sendiri, lalu pergi ketika saatnya pergi.

Ada soulmate yang bisa berupa binatang peliharaan, baju kesukaan, buku dan film favorit, tempat liburan, rumah, agama, semua hal yang kita rasa telah mempengaruhi jiwa kita dan selamanya kita ingin menyimpan rasa itu di dalam hati.

Atau mungkin soulmate kita adalah diri kita sendiri, this awesome self inside ourselves yang menunggu untuk ditemukan, yang ditarik keluar oleh soulmate-soulmate yang kita temukan sepanjang perjalanan hidup kita. Bahwa mungkin sebenarnya: We are complete within ourselves.

Mungkin saja. Mungkin saja J

Rei -17102013-

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Ombak, Riak, Gelombang.

Tulisan hari ini terinspirasi oleh satu chapter dari salah satu penulis favorit saya ika natassa. Di karangan itu aku menemukan istilah: when a wave comes, go deep.

Jika kita diterjang ombak yang kencang, menyelamlah. Ada tiga hal yang bisa kita lakukan saat hidup menerjang kita dengan ombak. Satu kita bisa lari, tapi ombak itu akan tetap mengejar kita dan menaklukkan kita hingga tersungkur. Dua kita bisa sok kuat dan berdiri menantang ombak itu, tapi kemungkinan kita tetap jatuh tersungkur dan terhanyut. Ketiga, kita bisa pakai kesempatan ini untuk menyelami ombak itu, mentransformasi diri kita sesuai keadaan yang ada dan menyatu dengan air agar kita bisa melewati terpaannya.

I think i’ve been thru all that phase. Setidaknya dalam salah satu cerita cinta yang saya alami ini.

The run away phase. Dulu saya bukan seseorang yang benar-benar hidup, bagaikan seorang zombie, saya menyeret jiwa saya tanpa sepenuhnya sadar apa yang sedang saya lakukan. Saya bersekolah, kuliah dan melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan (TK-SD-SMP-SMA-kuliah-bekerja). Saya menjalani itu semua tanpa sadar  apakah sebenernya tujuan yang ingin saya lakukan di masa depan.

At that time, I didn’t really think things thru. I never made a conscious choice. I let life and the people surround me chose for me, and then I could blame them, anytime the choices didnt go the way it should be.

Saya tidak benar-benar hidup dan seolah-olah melarikan diri dari hidup ini. Saya lebih memilih untuk hidup nyaman, pada tahapan-tahapan kehidupan yang sudah dipilihkan untuk saya. Setiap kali menemukan masalah, saya lari dari masalah dan suka berkhayal berada di dalam cerita buku atau film yang sedang saya nikmati.

Actually running away is what I did best, it was also the longest phase in my life and something I still do occasionally, since I’m not really equipped with problem solving skills.

And then, there comes love.  You’re not fully awaken until you know love. It’s like someone pour a cold water to your face, when you were sleeping. I woke up and gasp. Geez, how did i get here? This is not what I planned? How come I fell in love with someone I shouldn’t have? But you just cant denied the love you feel.

 I choose to face and embrace the love that comes to me. I challenged all the misery that love comes with, expect it to change the way I want it to be. The waves hit me hard in the face, several times. The waves is trying to tell me the truth, over and over again trying to convince me that this love could not happen. And just like anyone who tried to challenge the waves I ignore it and try to turn and twist the waves so it’ll went my way, the way I want it to be.

I fell so hard, dragged by the waves who carry me up and down in the water. Suffocates me with the fact that I will never be with that man. The waves keep beating me hard, just to make sure I understand. I didnt give up, my mind still believe that there is some way that we can be together. And the wave, with all its mighty, keep showing me the facts I tried to deny so hard. It’s either me or the waves. At last, I surrender.

I think this is my final phase. Hopefully. Now I just dive with the wave, transform my self to match the wave and its condition. I take in whats available, absorb, and enjoy what I can.

The wave starts to be gentle to me, but everytime I hope or try to change the wave’s shape the way I want it to be, it keeps beating me again. And then I know, sometimes no matter how strong and persistent you challenged something, somethings are never gonna change.  You can make a conscious decision to challenge the wave every single god-damn-day of your life, burning away your soul to  prove that you can calm the wave or stop. Like i said, I chose to surrender. 

Berharap suatu saat ombak ini akan reda, menghilang dari kepala saya, mengantarkan saya berlabuh ke pantai. Pantai itu mungkin sepi, tanpa terpaan ombak, dan saya mungkin akan merindukan terpaan ombak itu. Tapi setiap kali merindukannya, saya bisa melihat ke arah ombak dan mengingat semua hal yang sudah saya lakukan untuk menentangnya, dan mengapa saya menyerah.

Kurasa, saat ini aku hanya ingin mencari pantai yang airnya lebih tenang.

Rei – 141013-

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Gravity (spoiler alert)

Gravity-where do I start.

I had high hopes for this movie, far too drawn to this film gravity, its trailer, big names behind it and when I watched it, frankly, it didn’t live up to the expectation. Oh no, its not so bad, it is still a must-watch movie, I  just hope too much.

Cause sometimes its not the fact of life, but its the hope in your mind that is killling you softly (curcol).

Alright, back to the movie. I missed the first few minutes of that movie, actually. When I watched it, I saw Dr. Ryan (Sandra Bullock) tried to fix a panel or some kind of system.The system was said to be progressive, and only several people had come that far with the research. So NASA, funded Dr Ryan research to be done outer space or something.

My first question was: What the hell does a medical doctor do out in a space, fixing some panel system? Aren’t medical doctor supposed to fix lives than systems? And I must say, if she really is an expert, chosen by NASA to install the system in outer space, she didn’t look skillfull doing it.

Well, anyway, somehow some accident happened. Some Russian (its like some old American movies who always blamed the Russian), try to fired at their own satellite and the satelite explode in the outer space, leaving lots of debris flying in high speed, endangering everything in line with their orbit. Apparently  Bullock and her teammate, I forgot his name, lets just say Clooney (played by George Clooney) also their spaceship are right around the debris orbit. The debris hit their space ship hard and crashed it, killed several team mates, only leaves Bullock and Clooney together in a vast limitless space, also later Clooney also got killed. And from that moment forward, all Bullock do is to survive the space and find their way back to earth.

If you want to know what happened next in the film, well, Bullock tried several things to saved herself. She tried to enter the Russian Satellite, but it didn’t work. Then she tried to tag along with the Chinese Satellite, and made it back to earth. She landed, almost drowned, but got back on her two feet, continue to march with her life, prouder and stronger than ever to have survive the space.

Thats about it, thats the major outline of the film. You should stop reading here, if thats what you only need to know. But If you want a review, keep on reading.

___

The good thing about this movie is the graphic. The graphic detail of the film is flawless, and I heard it took 4 years to create it. But I’m afraid, that was what distracted the filmmaker to enrich other details in the movie. Its like, they concentrate too much, on the film technicality, and forgot to give “soul” to the movie.

Bullock was portrayed as dumb-blonde astronout (only she is brunette), someone who didn’t really give added value to the team, her experiments went wrong and she didn’t have time to finish it, she can’t drive a space shuttle, she panicked during crucial moment and were clueless on how to save herself, she can’t speak other language, and there are so many things in the movie that makes you ask questions.

How does an astronout (Bullock) can be so clumsy and stupid? Aren’t astronout supposed to be geniuses and were trained to be calm under emergency situation?

I also see some problems with Bullock’s acting. Actually, i think, this is the first time Bullock have to act that much alone, talking to herself, projecting loneliness and desperation.  This is not the kind of acthig that suits her, she acts better when somebody else was in the scene.

From the moment the debris hits their space, gravity just turns into another survivor movie, but in space. Its like Die Hard, but in space.

Oh, the film maker tried, here and there, to give soul to the movie. But it just didn’t got me.

Like when Bullock told Clooney that she had a daughter who died, and after since  she was lonely and nobody waits for her on earth (ngerti kok mblo…). Or when Bullock tried to communicate with someone in China, and instead of trying more effectively to save her life she just want to hear the sound of a crying baby and the dog in the background. Its like Bullock trying to be someone who died in space, tapi nanggung, because somehow, suddenly she become this survivor who comes back to earth and fight for her life.

Jadi maunya gravity ini apa? Just some action movie in space? Mau menekankan betapa mengerikannya sendirian sambil mempertanyakan eksistensi kita yang begitu kecil di luar angkasa (like Cast Away-kind of movie)? Atau mau cerita cinta antara Clooney dan Bullock?

Actually, the film maker tried to include all the above and failed miserably. I would appreciate it, if from the first place this movie come clean and said “Hey I’m just some action-survivor movie trying to look posh in space.” But oh no, this movie tried to trick the audience to make the audience believed that this movie is more “important” and “serious” than it really was. The fim maker tried to put some loneliness, despair, existential questions, suicidal trials and also some love story in it.

Good try, but it didnt fly.

Again, the action part was superb, but maybe Bullock use an expert stunt? Bruce Willis in Die Hard, is more convincing and I believe it take far lesser budget and time to make it.

Rei -141013

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment