ORI vs Sukri

Sesuai janji gue sebelumnya, gue akan menuliskan mengenai perbedaan antara ORI dan Sukuk Ritel (Sukri). Buat yang belum ngerti ORI itu apa, monggo dibaca tulisan gue sebelum ini.

Pada dasar ORI sama Sukri mirip-mirip, sama-sama Surat Utang tapi tetap ada beberapa perbedaannya. Perbedaan yang paling mendasar adalah Sukuk Ritel berbasis syariah sedangkan ORI berbasis konvensional. Kenapa Syariah? Apa dasarnya? Dari namanya aja udah syariah kan? Hehehehe… Sukri sendiri merupakan turunan dari Surat Berharga Syariah Negara yang bersifat Ritel.

Mengacu pada website Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, pengertian Sukri adalah sebagai berikut:

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau dapat disebut Sukuk Negara, adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas penyertaan terhadap aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Sukuk Negara Ritel (SR) adalah seri SBSN yang diterbitkan Pemerintah dengan cara bookbuilding di pasar perdana dalam negeri yang ditujukan bagi investor individu atau orang perseorangan Warga Negara Indonesia.

Kenapa disebut Syariah?

Tanpa bermaksud menyederhanakan persoalan syariah atau tidak, namun agar tulisan ini lebih mudah dimengerti aja, Sukri disebut memenuhi prinsisp syariah karena Sukri memiliki underlying. Underlying Asset Sukri bisa berbentuk Barang Milik Negara atau obyek pembiayaan Sukri itu sendiri. Barang atau obyek pembiayaannya pun tidak boleh bertentangan dengan prinsip syariah. Underlying itu maksudnya peruntukannya. Jadi ada tujuannya, jelas, gak galau ;p

Sedangkan ORI tidak memilikinya. Artinya, ketika Pemerintah menerbitkan Sukri, hasil pinjaman yang terkumpul dari masyarakat jelas peruntukannya untuk membiayai apa dan harus sesuai syariah, sedangkan peruntukan ORI terserah kepada Pemerintah.

Tapi oke deh, karena kalo bicara syariah atau tidak, harus hati-hati, maka loe bisa merefer ke Fatwa-fatwa berikut ini:

  • Fatwa DSN-MUI No.69 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN);
  • Fatwa DSN-MUI No. 70 Tahun 2008 tentang Metode Penerbitan SBSN;
  • Fatwa DSN-MUI No. 76 Tahun 2010 tentang SBSN Ijarah Asset To Be Leased;

Jadi, buat loe yang pengen investasi dan tetap ingin investasinya gak bertentangan dengan prinsip Syariah, monggo tuk invest di Sukuk Ritel.

Posted in Finance | Tagged , , | Leave a comment

Repost: Obligasi Ritel Indonesia ORI012

Tulisan ini pernah gue posting sebelumnya, tapi di tempat lain, jd gue reposting di sini lagi

————————————

Kupon obligasi ritel Indonesia seri ORI012 ditetapkan 9% atau berada dibatas atas penawaran kupon sebesar 8,75%-9%. Kemarin, Kementerian Keuangan mengumumkan penjualan surat utang untuk ritel yang jatuh tempo 15 Oktober 2018 itu memiliki kupon 9% (Bisnis Indonesia, hal 14 : Penerbitan ORI012: Kupon Ditetapkan 9%)

Demikian kutipan dari Bisnis Indonesia hari ini (18 September 2015), bahwa Pemerintah Republik Indonesia akan menerbitkan Obligasi Ritel Indonesia atau disingkat ORI dengan seri 012. Angka 12 ini menandakan bahwa Obligasi ini merupakan Obligasi Ritel ke-12 yang pernah diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Berikut ini adalah daftar Obligasi Ritel yang pernah diterbitkan berikut tingkat suku bunga (kupon)-nya plus masa berlakunya:

  • ORI001 – 12,05% (9 Agustus 2006 – 9 Agustus 2009)
  • ORI002 – 9.28% (28 Maret 2007 – 28 Maret 2010)
  • ORI003 – 9,40% (12 September 2007 – 12 September 2011)
  • ORI004 – 9,50% (12 Maret 2008 – 12 Maret 2012)
  • ORI005 – 11,45% (3 September 2008 – 15 September 2013)
  • ORI006 – 9,35% (12 Agustus 2009 – 15 Agustus 2013)
  • ORI007 – 7,95% (15 Agustus 2010 – 15 Agustus 2013)
  • ORI008 – 7,30% (26 Oktober 2011 – 15 Oktober 2014)
  • ORI009 – 6,25% (10 Oktober 2012 – 15 Oktober 2015)
  • ORI010 -  8,50% (8 Oktober 2013 – 15 Oktober 2016)
  • ORI011 – 8,5% (22 Oktober 2014 – 15 Oktober 2017)

(Sumber: dikumpulkan dari beberapa sumber)

Sebetulnya apa sie ORI itu? Kalau mengacu pada pengertian yang ada di website Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, ORI itu didefinisikan : “Obligasi Negara yang dijual kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Agen Penjual di Pasar Perdana.”

Atau kalau boleh gue bahasakan dengan bahasa gue sendiri ORI itu Surat Utang yang diterbitin oleh Pemerintah Republik Indonesia buat ngutang sama investor perorangan (ritel), dengan janji pengembalian pokok pada saat jatuh tempo dan bunga (kupon) setiap bulan sebesar persentase tertentu.

Apa untungnya investasi ORI?

Kita pake contoh ORI011 yang diterbitkan pada tanggal 22 Oktober 2014 dengan kupon sebesar 8,5% per tahun. Kupon sebesar 8,5% ini ketika diterima oleh investor akan dipotong pajak penghasilan sebesar 15%, bandingkan dengan deposito yang dipotong pajak penghasilan sebesar 20%. Artinya, setiap kupon yang loe terima, akan berselisih 5% kalo uang loe ditaro di deposito.

Katakanlah uang Rp 10 juta di deposito dan ORI, kalo di deposito dan ORI maka loe akan terima Rp 850.000 sebelum dipotong pajak.

  • Deposito Pajaknya 20% : Rp 170.000 = Efektif bunga Rp 640.000
  • ORI pajaknya 15% : Rp 127.500 = Efektif kupon Rp 722.500

Buat uang senilai Rp 10 juta, tiap tahun selisihnya sebesar Rp 82.500, kecil? Iya kecil karena modalnya cuma Rp 10 juta. Coba kalo modalnya Rp 1 miliar maka selisihnya sebesar Rp 8.250.000, per tahun, kali 4 tahun udah kebeli lah vespa keluaran terbaru.

Itu baru dari selisih pajaknya, keuntungan berikutnya yakni dari selisih harga, per tulisan ini gue buat, harga ORI011 di pasar adalah 100.241179, jadi kalo tadi modal loe Rp 10 juta, bisa dijual di pasar sebesar Rp 10.024.118 atau untung sebanyak Rp 24.118. Kecil? *dejavu

Keuntungan ketiga, Deposito itu memang ditanggung sama LPS, tapi nilai pertanggungannya ada batasnya. Sementara ORI karena penerbitnya pemerintah Republik Indonesia, maka gak mungkin gagal bayar. Kalo pun Pemerintah gagal bayar toh Pemerintah bisa cetak uang atau terbitin surat utang yang lain bukan?

Risiko Investasi

Secara implisit gue udah sampein bahwa yang namanya utang itu ada kemungkinan gak ketagih. Apalagi kalo utang sama temen, pasti loe gak enak kan buat nagihnya? ;p

Tapi karena ini yang ngutang adalah negara, maka kecil kemungkinannya (kalo gak mau disebut ‘gak mungkin’) untuk gak ketagih. So, risiko pertama bahwa ORI bisa aja default, gagal bayar, baik bunga (kupon) maupun pokok-nya. Tapi risiko ini kecil atau bahkan bisa dihilangkan.

Risiko kedua juga udah sedikit gue singgung (maaf ya kalo gue sering nyinggung), bahwa ORI itu ada harga pasarnya. Kalo di tulisan gue sebelumnya bilang bahwa harga ORI011 itu 100.241179 maka per tulisan ini gue tulis (ya masa tulisan digambar) harganya 99.361440. Oh iya, gue lupa, satuan harga untuk obligasi itu disajikan dalam persentase, jadi kalo ditulis 100 artinya 100% atau harganya sama dengan nilai nominalnya, kalo ditulis 101% berarti harganya lebih mahal 1% dari nilai nominalnya. So, dalam berapa hari ini aja udah keliatan naik turunnya kan? Yakni turun dari Rp 10.024.118 jadi Rp 9.936.144 atau membukukan unrealized loss sebesar Rp 63.856.

Terkait sama harga obligasi, pertama, biasanya akan berkorelasi negatif terhadap suku bunga bebas risiko, yakni suku bunga bank sentral, atau kalo di Indonesia biasa disebut BI Rate. Kalo BI Rate naik, maka harga obligasi cenderung akan turun. Kenapa? Karena kalo BI Rate naik, maka biasanya akan diikuti dengan kenaikan bunga deposito, nah, karena deposito sifatnya jangka pendek, maka kecendrungannya orang pindah dari obligasi ke deposito dengan cara menjual obligasinya kemudian buka deposito. Sesuai prinsip ekonomi, ketika orang banyak jual, harganya turun.

Kedua, harga obligasi akan berkorelasi dengan umurnya (jatuh temponya), makin panjang umurnya, maka volatilitas (ayunan naik turunnya) harganya akan cukup besar, makin pendek volatilitasnya makin kecil. Begitu pun kalo mendekati jatuh tempo, maka kenaikan/penurunan harganya akan makin kecil gap-nya, plus mendekati jatuh tempo akan mendekati angka 100 (kalo loe masih nanya 100 ini apa, ulang lagi bacanya dari atas). Jadi, loe bayangin aja pohon bambu, kalo bambunya pendek, maka kalo kena angin gak akan terlalu goyang, tapi kalo bambunya panjang maka kena angin sedikit aja pasti goyang. Tinggal loe suka yang goyang-goyang apa ngga (kaburrrr).

Risiko ketiga, harga itu terbentuk karena ada yang mau jual dan ada yang mau beli maka ada tawar-tawaran, dan terciptalah harga wajar. Nah, pasar obligasi di Indonesia itu belum serame pasar ekuitas atau pasar saham. Jadi, kalo loe mau jual, belum tentu ada yang mau beli, apalagi loe cuma jual Rp 10 juta! ;p heheheh jadi, better loe tanya sama broker yang jualan ORI, dia bersedia beli kapan aja loe mau jual apa ngga.

Risiko selanjutnya ada yang namanya risiko reinvestment dan pajak, tapi nanti lagi ya gue terusin. Eh tapi banyak banget ya risikonya? ;)

Posted in Finance | Tagged , , , | Leave a comment

Trip ke Singapura

Minggu lalu, akhirnya gue bisa mewujudkan keinginan anak-anak untuk bisa punya cap di passportnya. Perginya gak jauh-jauh, cuma ke Singapura. Bukan mau sok gaya-gayaan jalan-jalan ke luar negeri dan gak cinta sama destinasi tanah air, tapi memang perjalanan ini sudah lama kami inginkan dan rencanakan. Lagi pula rasanya tidak ada salahnya anak-anak gue bisa punya wawasan bahwa ada negara lain yang budaya dan environmentnya berbeda dengan negara kita tercinta ini.

Kalo biasanya gue suka kebagian jadi EO buat acara-acara kantor, gue mencoba untuk menerapkannya untuk acara jalan-jalan keluarga ini. Gue mencoba untuk berperan jadi EO. Itinerary, ticketing, hotel, dan segala tetek bengek perjalanan gue siapkan dengan semaksimal mungkin.

Untuk tiket, karena masih trauma sama kejadian-kejadian gak enak dari budget airlines yang terjadi tahun lalu di bulan yang sama, gue memilih untuk pake flag airlines tercinta, Garuda Indonesia, cari tiket promo-an lah ceritanya, tapi tetap mau kualitas nomor 1 ;)

 

Kemudian itinerary selama 3 hari gue siapkan sebagai berikut (baik rencana maupun realisasinya gak banyak berubah)

Hari Pertama

Sesampainya di Changi Airport di terminal 3, menggunakan Sky train ke terminal 2 untuk mengurus imigrasi dan mengambil bagasi kami. Anak gue yang kedua pun sudah mulai excited naik kereta.  Setelah selesai urusan imigrasi dan bagasi, kami pun bergegas ke Train Station yang ada di bagian bawah terminal 2, terus beli Tourist Pass yang bisa digunakan selama 3 hari untuk naik bus, MRT dan LRT seharga Singdol 30 include deposit Singdol 10. Jadi sebetulnya loe hanya membayar Singdol 20 untuk bebas menggunakan Pass ini selama 3 hari. Menurut pertimbangan gue harganya murah ketimbang beli tiket setiap kali mau naik MRT.

Dari Changi Airport, MRT-nya adalah MRT jalur hijau, turun di Tanah Merah untuk berganti kereta, dan terus dilanjutkan hingga Stasiun Bugis. Dari sini tinggal berjalan kaki selama kurang lebih 10 menit ke Hotel Ibis Bencoolen.

Check in, deposit Singdol 100, dan kami siap menuju tujuan pertama, Garden By the Bay. Tapi karena belum makan siang, maka kami sempatkan makan siang dulu di daerah Bugis.

Garden by the Bay terletak persis di belakang Hotel Marina Bay Sands, maka kami kembali naik MRT dari Bugis, menggunakan kereta jalur biru ke stasiun Bayfront (2 stasiun).

Di Garden by the Bay kami naik shuttle dari Bayfront ke area Flower Dome, karena jaraknya jauh banget, apalagi kalo loe harus nuntun 2 anak yang masih kecil-kecil, jadi better hemat tenaga deh ;) tiketnya kalo gak salah Singdol 3 per orang.

Flower Dome adalah semacam Glass House yang isinya berbagai koleksi bunga-bunga cantik dari berbagai belahan dunia. Gue gak tau apakah bunganya memang tumbuh dan berkembang di dalam Flower Dome, atau diganti tiap berapa periode sekali jadi selalu dalam kondisi berbunga ;p hehehe entahlah.

Puas foto-foto di dalam Flower Dome, kami pun masuk Cloud Forest. Ketika masuk langsung disajikan pemandangan air terjun dari ketinggian beberapa puluh meter. Tapi karena mulai kecapekan kami gak lama di sini.

Kami pun kembali ke stasiun Bayfront. Tadinya berniat dari sini terus mau ke Merlion Park. Tapi godaan makan ice cream di Orchard berhasil mengalahkan niat ke Merlion. Kami kembali menggunakan MRT dari Bayfront ke Marina Bay Station menggunakan jalur Orange, kemudian berpindah ke jalur merah untuk bisa ke Orchard.

Setibanya di Orchard, yang pertama kami cari adalah ice creamnya. Norak ya? Biarin! Hehehehehe… Ketika berjalan di tunnel dari stasiun Orchard, kami melihat ada toko Smiggle, toko alat-alat tulis buat anak-anak cewek. Toko ini lah yang dulu ketika anak gue yang gede kelas 1 SD minta dibelikan pensil merk Smiggle, karena banyak temennya yang punya. Dan akhirnya baru kesampean sekarang ;p

Sajian Ice cream tandas, waktunya hunting mainan. Ya, di basement Takashimaya lagi ada bazar mainan anak-anak, termasuk mainan dengan tema Starwars (ini sie bapakknya yang mau).

Cape…. Tapi puas, kami kembali ke Bugis untuk beristirahat di hotel. Makan malamnya gimana? Kami makan malam di restaurant hotel, yang bikin kaget ternyata gak mahal-mahal amat dan ternyata enak!

Hari Kedua

Pagi-pagi gue agak kaget karena anak gue yang kecil badannya rada anget. Mmmh, kecapean kayaknya. Setelah dia bangun, dan gue tanya apakah dia tetap mau jalan hari itu, tanpa disangka ternyata dia semangat banget. Sebagai EO yang baik, gue pun menyarankan ke semua anggota perjalanan ini untuk tidak terlalu memaksakan diri, dibawa santai aja (ciyeeeeh).

Tujuan pertama dan utama hari itu adalah ke area Sentosa Island, tepatnya kami mau ke Universal Studio dan Madame Tussauds. Selesai sarapan, kami merubah rencana, dari semula mau naik MRT, kami memutuskan untuk naik Bus ke Vivo City. Gue lupa nomer bus-nya tapi kalo gak salah 165. Anak gue yang kecil ingin naik double decker katanya. Tapi begitu naik, ternyata dia gak terlalu suka sama goncangan di bus. Hehehehe.. manja ya? Gimana coba kalo disuruh naik metro mini di Jakarta ;p

Satu catatan penting, kalo naik MRT loe bisa tau udah sampe mana, tapi kalo naik Bus, loe gak bisa nebak haltenya itu ada di daerah mana. Untuk ada mba-mba yang nunjukin ke kami kalo Vivo City sudah dekat “I’m not sure but I believe the next stop is Vivo City” gitu katanya.

Dari Mall Vivo City, untuk nyebrang ke Sentosa bisa pake kereta. Beli tiket dan stasiunnya ada di lantai 3 mall. Tiketnya Singdol 4 per orang. Dan untuk ke USS cuma 1 stasiun, sedangkan untuk ke Madame Tussauds 2 stasiun.

Di USS kami cuma mencoba 2 permainan yakni Lost World dan Far Far Away. Banyak permainan yang belum bisa dimainin sama anak gue yang kecil.

Dari USS, kami menuju 1 stasiun berikutnya untuk ke Madame Tussauds. Area Madame Tussauds ada di ketinggian yang cukup tinggi. Syukurnya di situ disediakan escalator, jadi gak cape-cape banget lah untuk bisa ke situ. Layaknya Madame Tussauds di Bangkok, di sini juga terdapat patung Bung Karno.

Muter-muter, foto-foto, dan kami pun memutuskan untuk kembali ke Vivo City. Niatnya mau beli mainan di Toys r’us tapi dilalah anak gue yang kecil kembali minta ke Takashimaya buat beli diecast Tomica yang sialnya gak ada di Toys r’us Vivo City. Ya sudah, sekalian lah Bapaknya kan belum beli Starwars ;p

Dari Vivocity kami naik MRT lagi, jalur ungu, turun di Dobby Ghaut, ganti jalur merah ke Orchard.

Cape? Iya, tapi seneng. Dan alhamdulillah anak gue yang kecil gak anget lagi badannya ;)

Kembali ke hotel dengan langkah diseret, kami pun mengakhiri hari kedua dengan makan di Hotel lagi. Burgernya enak deh.

Hari Ketiga

Pagi-pagi, kami menyempatkan ke Merlion Park, harapannya bisa foto di patung legenda, Singa Mancur ;p naik MRT dari Bugis turun di City Hall, jalan lewat Esplanade trus mencungul di Esplanade Theater. Kami harus menelan kekecewaan karena ternyata patungnya lagi direnovasi. Airnya lagi gak mancur. Foto-foto sebentar, kami kembali ke Bugis. Check out dan kemudian menuju ke Changi Airport dengan MRT jalur hijau seperti ketika kami datang.

Tiket-tiket

Tiket Garden by the Bay, USS, Madame Tussauds gue beli di http://www.sunburstadventure.com/ selisihnya banyak, untuk 2 orang dewasa dan 2 anak-anak kami berhasil menghemat kurang lebih Rp 500 ribu kalo dibandingkan kami beli on the spot di ticket booth, belum lagi risiko keabisan dan harus antrinya. Cukup oke kok.

-bierkof-

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Pengalaman Ditilang

Awas, Pertigaan Senayan

2 minggu yang lalu, bertepatan dengan hari Minggu pagi, karena harus nganterin anak gue ujian Piano di Yamaha Gatot Subroto, gue harus berputar lewat jalur Jl. Asia Afrika untuk kemudian melewati Hotel Mulia dan melintasi Jl. Gerbang Pemuda menuju Jl. Jend. Gatot Subroto, karena Minggu pagi seperti biasa ada kegiatan Car Free Day di sepanjang Jl. Jend. Sudirman.

Karena jalan masih cukup sepi, gue pun bisa bebas memilih jalur (jalan Asia Afrika itu terdiri dari 3 jalur) ke arah Hotel Mulia. Waktu itu gue ambil jalur yang tengah-tengah. Maksudnya biar tinggal lurus dan gak keganggu bis yang berenti di sebelah kiri. Tapi begitu melintasi lampu merah selepas Hotel Fairmont, ada polisi mencegat gue.

“Selamat pagi pak, bapak sudah melanggar marka jalan”

Karena gue gak terlalu ngeh marka mana yang gue langgar, maka gue ngotot mau liat markanya. Dan sialnya bener, jalur tengahnya ternyata memang bergaris tanpa putus-putus, artinya jalur tengah itu dibuat untuk orang yang mau belok kanan ke arah Jl. Pintu Gelora 1 (Hotel Atlit Century).

So, buat loe yang melintas jalan itu, hati-hati aja ya.

Pengadilan Negeri yang Pindah

Singkat cerita gue pun ditilang. Pake form merah. Ya, gue males bayar di ATM yang katanya kalo pake form biru bisa bayar di ATM terus ambil di tempat polisi yang menilang gue itu berkantor. Gue pikir ya mending gue ambil di Pengadilan Negeri deh daripada ketemu Polisi yang bikin Minggu pagi gue berantakan itu lagi.

Di Form Tilang tertulis sidang akan dilakukan pada tanggal 20 Nopember 2015 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Setelah gue google sana sini, akhirnya tadi pagi gue berangkat ke sana pake TransJakarta. Ini adalah pengalaman gue pertama ikut sidang tilang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, setelah sebelumnya ikut sidang tilang juga tapi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan sekitar 15 tahun yang lalu (wih, berarti selama 15 tahun berikutnya gak pernah melanggar dong – GR).

Anyway, ini juga pengalaman pertama gue naik TransJakarta setelah TransJakarta bayarnya pake e-Money. Ngetap kartu E-Money, trus naik bus Scania berwarna biru menuju Halte Sawah Besar. Dari situ tinggal jalan dikit ke PN Jakpus. Calo-calo banyak di depan PN. Gak gue gubris….. masuk dengan Pedenya, tapi curiga kok gerbangnya ditutup ½ . Gue pikir ah ini pasti biar gak ribet parkirnya aja di dalam PN. Sampe seorang satpam menghampiri gue yang celingukan. “Mas mau sidang tilang ya?” gue pikir wah Satpam mau jadi calo juga nie “Iya mas”. Satpamnya senyum “udah pindah mas ke jalan bungur”.

Demmm…. Dengan langkah gontai gue pun keluar PN sambil google informasinya. Dan benar, ada informasi dari twitter @tmcpoldametro yang bilang per 20 Nopember 2015, sidang tilang di PN Jakpus pindah ke Jl. Bungur. Ya udah, daripada ribet akhirnya gue naksi dari situ, jaraknya cuma sekitar 3 km dari PN yang di jalan Gadjah Mada, tapi males kan kalo kudu jalan kaki di pagi-pagi terik gitu.

Pengalaman (ikut) Sidang Tilang

Sesampenya gue di PN Jakpus yang baru di Jl. Bungur (tepatnya belakangnya pom bensin Shell Gunung Sahari, muter di deket markas Angkatan Laut di ujung jalan pasar baru), gue pun berjumpa dengan saudara-saudara seperjuangan. Maksudnya berjuang untuk tidak mau nyogok hehehehe.

Gue ikutin arah orang-orang pada jalan. Kalo tuh orang-orang pada beli bubur jangan-jangan gue beli bubur juga ;p

Tapi ngga, mereka menuju sebuah ruangan ber-AC di sisi kiri Pengadilan. Ada beberapa pak Polisi yang berjaga di sana, mengarahkan ke sebuah loket antrian. Gue tuker lah surat tilang yang sudah terlipat rapi di dompet gue selama 2 minggu dengan sebuah nomor antrian.

Gila, jam 9 udah antri nomor 281! Tapi sayup-sayup gue denger nomor 200 udah dipanggil. Jadi ya sudah lah, dalam waktu sejam (kalo asumsi jam 8 buka) 200 nomor udah dipanggil, berarti 81 nomor gak lama lagi. Dan benar, gak sampe 30 menit nomor gue udah dipanggil.

Nah, di sini gue rada telmi nie, waktu mas loketnya bilang “150 ribu” gue iya aja keluarin duit segitu trus bayar, dan karena kangen sama SIM A gue, gue gak nanya lagi kuitansi kek atau apa kek, jadi percaya aja emang dendanya 150 ribu. Setelah pulang gue baru mikir, apa iya bener dendanya segitu? Tapi ya sudah lah, ini buat pelajaran aja, lain kali kalo ketilang lagi (amit-amit) kan bisa nanyain mas-mas loketnya.

Posted in Friday musing | Tagged | Leave a comment

Fasilitas Transaksi Margin (dapat) Meningkatkan Likuiditas Pasar

Nama gue dalam huruf Jepang

Sekitar 7 bulan yang lalu, gue berkesempatan ikut sebuah program dari kantor sebelah ke Jepang. Tujuannya adalah mengunjungi Japan Securities Finance (JSF).

Berikut ini tulisan gue bareng Delon (teman 1 tim yang berangkat bareng ke sana) yang sudah dimuat di buletin Kantor bulan Oktober kemarin. Iya, setelah 7 bulan akhirnya tulisannya dimuat juga ;)

Semoga bermanfaat.

Japan Securities Finance merupakan lembaga yang didirikan pada tahun 1950 berdasarkan Financial Instruments and Exchange Act. yang bertujuan untuk memberikan pinjaman untuk Transaksi Margin di Tokyo Stock Exchange (TSE) sesuai peraturan TSE.

Keberadaan lembaga yang dapat memberikan pembiayaan transaksi margin diyakini dapat meningkatkan likuiditas di pasar modal. Statistik yang dikeluarkan oleh World Federation of Exchanges untuk tahun 2013 membuktikan bahwa turn over ratio (value of share trading / domestic market capitalization) negara-negara Asia yang memiliki lembaga pembiayaan transaksi margin seperti JSF memiliki rasio yang lebih tinggi, seperti Thailand, Taiwan, Korea, Jepang dan Tiongkok. TSE memiliki 2 lembaga pembiayaan transaksi margin yakni JSF untuk Bursa Saham Tokyo, Sapporo dan Fukuoka, dan Chubu Securities Finance untuk bursa saham Nagoya. TSE merupakan bursa terbesar di Jepang dengan market share sebesar 99,96% dari total trading volume di Jepang.

Sebagai sebuah lembaga pembiayaan, layanan jasa yang diberikan oleh JSF meliputi Loan for Margin Transactions (LMT), Bond Financing, General Loans, Loans for Negotiable Margin Transactions, Secured Loans on Securities for Individuals and corporate investors, Stock Repo Trading, General Stock Lending, dan Bond Services.

Transaksi Margin di Jepang terdiri dari 3 jenis, yakni Standardize Margin Transaction (SMT), Loan for Margin Transaction (LMT) dan Negotiable Margin Transaction (NMT), dengan masing-masing Market Value sebesar $ 26,1 miliar, $ 5,1 miliar, dan $ 5,5 miliar (data per 31 Maret 2014). Total Trading Volume yang dibiayai dengan transaksi margin pun mengalami trend kenaikan yakni 16% pada tahun 2011, 17% pada tahun 2012 dan 23% pada tahun 2013.

Statistik nilai perdagangan di TSE sendiri menunjukkan bahwa 58% merupakan investor asing, 32% investor individual, 8% lembaga keuangan dan lainnya sebanyak 2%. Dari total 32% investor individual, sebanyak 61% menggunakan fasilitas transasksi margin.

Apa yang menyebabkan adanya lembaga pembiayaan transaksi margin ini bisa membuat likuiditas meningkat? Hal ini salah satu yang membuat diskusi dalam kunjungan kami kali ini sangat menarik. Layaknya pembiayaan transaksi margin lainnya, transaksi margin yang disediakan oleh JSF dapat dijadikan sebagai leverage bagi investor dalam berinvestasi ketika terdapat peluang investasi yang menguntungkan JSF dapat memberikan pinjaman baik dana maupun efek bagi Perusahaan Sekuritas yang notabene merupakan pinjaman dari nasabah dari Perusahaan Efek tersebut. JSF juga berfungsi sebagai lembaga intermediaries antara pihak-pihak yang membutuhkan pinjaman dengan pihak yang meminjamkan. Pinjaman transaksi margin dapat berupa saham maupun dana.

Selain meningkatkan likuiditas, SMT dan LMT juga dapat dijadikan alat hedging bagi investor, mengurangi volatilitas harga, meningkatkan jumlah investor, sumber pendapatan bagi perusahaan sekuritas dengan meningkatkan kemampuan untuk memberikan fasilitas margin bagi nasabahnya.

Mekanisme Pinjaman Transaksi Margin

Alur pinjaman transaksi margin dimulai ketika Investor yang ingin melakukan order jual/beli menyampaikan order melalui Perusahaan Sekuritas. Order jual/beli yang telah berhasil dilakukan di Tokyo Stock Exchange (TSE) kemudian disampaikan data settlementnya ke Japan Securities Clearing Corporation (JSCC). Apabila investor ingin menggunakan fasilitas margin, maka investor akan diminta menyediakan deposit margin sebesar 30% dari nilai transaksi. Perusahaan Sekuritas kemudian menyampaikan pinjaman margin kepada JSF dan juga wajib menyampaikan deposit margin sebesar 30%. Efek yang dijual/beli dengan menggunakan fasilitas margin tersebut akan dijadikan collateral oleh JSF.

Perusahaan sekuritas akan melakukan netting di internal perusahaan sekuritas antara transaksi marging selling dan margin buying. Apabila jumlah transaksi margin selling lebih besar maka Perusahaan sekuritas tersebut akan meminjam saham dari JSF untuk dijual. Sebaliknya, apabila yang lebih besar adalah margin buying, maka perusahaan Sekuritas akan meminjam dana dari JSF untuk membeli saham. JSF kemudian akan melakukan akumulasi dan matching antara kebutuhan perusahaan sekuritas yang ingin meminjam saham (margin selling) dan perusahaan yang ingin meminjam dana (margin buying). JSF hanya akan menyediakan selisihnya saja.

Apabila selisih yang harus disediakan oleh JSF berupa saham, maka JSF akan memperolehnya melalui mekanisme bidding dari Perusahaan Sekuritas atau Investor Institusional. JSF akan mengumumkan kebutuhan saham apa yang diperlukan (tanpa menyebut jumlahnya), dan akan membayar sejumlah Premium Charge berdasarkan tarif tertinggi yang ditawarkan untuk mendapatkan sejumlah saham yang dibutuhkan. Namun, tarif tertinggi yang diperoleh ini juga akan diberlakukan sebagai premium charge bagi seluruh perusahaan efek yang meminjam baik saham maupun dana kepada JSF. Oleh karena itu, supaya tidak dikenakan premium charge, perusahaan efek yang memiliki saham yang dibutuhkan oleh JSF akan menawarkan tarif nol (0) karena di sisi lain dia juga meminjam dana dari JSF.

Jika pada prosesnya terdapat saham yang tidak bisa diperoleh melalui mekanisme bidding, maka JSF akan melakukan billateral negotiation kepada para pemberi pinjaman (lender). JSF akan menghubungi lender tersebut satu per-satu berdasarkan historical experience dengan lender tersebut. Dalam hal ini hubungan yang baik dengan perusahaan sekuritas atau institutional investor sebagai lender sangat membantu JSF dalam melaksanakan proses tersebut.

Syarat agar saham untuk dapat ditransaksikan secara margin antara lain sudah diterbitkan paling tidak selama 6 bulan, lebih dari 20 ribu lembar saham yang diperdagangkan di bursa, jumlah pemegang sahamnya lebih dari 1.700 pemegang saham, rata-rata lebih dari 100 saham diperdagangkan dalam 80% hari bursa dalam sebulan, issuernya tidak mengalami kerugian dan tidak memiliki akumulasi kerugian dalam laba ditahannya, dan sahamnya dapat dibeli oleh JSF untuk tujuan LMT. Data per Maret 2014 terdapat 3.647 emiten sebanyak 2.060 (56,5%) memenuhi syarat untuk dibeli melalui transaksi margin dan dijadikan pinjaman saham, sebanyak 1.575 saham (43,2%) memenuhi syarat untuk dibeli melalui transaksi margin saja, dan hanya sebanyak 12 saham (0,3%) yang tidak layak untuk kedua transaksi tersebut. Seluruh perusahaan efek dapat melakukan transaksi margin, tidak ada persyaratan khusus yang diberikan oleh TSE bagi perusahaan efek tersebut. Dalam melakukan pelayananan jasa bagi perusahaan efek, JSF bertindak sebagai salah satu anggota kliring dari Japan Securities Clearing Corporation (JSCC). Data hasil penyelesaian dari LMT akan disampaikan kepada JSCC untuk selanjutnya diselesaikan oleh Japan Securities Depository (JASDEC).

Posted in Finance | Leave a comment

Soulmate (2)

Tahun 2013 Rei pernah menulis dengan judul yang sama. Kali ini gue juga mau menulis dengan judul yang sama “soulmate”.

Tulisan gue ini berawal dari obrolan di sebuat chat group. Seorang teman gue ingin membahas mengenai sebuah quote (walaupun akhirnya gak dibahas juga karena teman gue ini sama sekali gak mengutarakan pendapatnya mengenai topik yang dia lempar). Quote-nya kurang lebih sebagai berikut:

“Kenapa seseorang yang amat sangat cocok ketika jadi teman tapi belum tentu cocok menjadi pasangan?” dan “Apakah Cinta punya tanggal Kadaluarsa?”

Kecocokan

Kadang kala kita merasa sangat cocok dengan seorang teman. Dari kecocokan obrolan, kecocokan hoby, kecocokan selera makan, kecocokan aliran musik dan banyak hal yang kita merasa sangat cocok dengan teman kita tersebut. Dari kecocokan-kecocokan ini, mulai timbul rasa suka, rasa ingin dekat, dan rasa-rasa lainnya yang kemudian sebutan hubungan pertemanan tidak lagi cocok.

Segala kecocokan tersebut membawa hubungan tersebut ke fase yang lebih intim dan lebih dekat. Kedua orang tersebut akan merasa bahwa pasangannya bisa mengerti apa yang dia maksud tanpa harus disampaikan secara verbal. Di sini lah letak awal muasal segala ketidakcocokan mulai muncul.

Bayangkan, bagaimana kita tahu apa yang orang lain mau, tanpa orang itu minta? Kita bukan peramal bukan?. Ketika merasa bahwa pasangan tidak lagi dapat mengerti apa yang kita mau, di situlah kekecewaan muncul, dan kemudian beranggapan bahwa banyak ketidakcocokan ketika sudah menjadi pasangan.

Inti dari semua ini adalah komunikasi.

Kadaluarsa

Banyak orang beranggapan bahwa Love is lasting forever. Benarkah?

….bersambung….

IDX Building – 11 Februari 2015

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Start a new Journey

Perubahan pasti terjadi. Satu-satunya yang tidak berubah yakni perubahan itu sendiri. Perubahan bisa membawa kita ke arah yang lebih baik namun perubahan juga bisa menjadikan segala sesuatu menjadi lebih buruk. Tinggal kita sendiri mau mengubah segala sesuatunya itu menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Perubahan sendiri tidak bisa datang dengan sendirinya. Perlu ada niat yang kuat dari dalam diri kita untuk selalu bisa berubah. Tentu berubah yang ke arah yang lebih baik. Alam semesta mengajarkan perubahan itu setiap hari. Matahari terbit mengubah dunia menjadi terang benderang, dan matahari tenggelam membawa dunia untuk beristirahat untuk kembali menyongsong matahari yang akan terbit kembali keesokan harinya. Hari yang lebih baik dari hari sebelumnya.

Per hari ini gue melakukan perubahan itu. Mengubah perjalanan karir yang telah gue mulai hampir 8 tahun yang lalu. Tidak mudah memang, namun perubahan itu sendiri adalah upaya untuk terus bisa meningkatkan kemampuan dan pengembangan diri gue sendiri. Semoga perubahan ini menjadi langkah awal yang lebih baik.

-Bierkof, Bintaro, 9 Februari 2015-

 

Posted in office and etc | Tagged | Leave a comment

Persahabatan (Selamanya)

Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa persahabatan seseorang itu biasanya hanya berumur 7 tahun. Bila persahabatan berumur lebih dari 7 tahun maka persahabatan tersebut akan berlangsung selamanya.

Dalam kurun waktu 7 tahun, dua orang atau lebih yang bersahabat bisa saling berbagi, bercerita, berbagi semua hal, termasuk hal-hal yang orang lain tidak boleh mengetahuinya. Seiring dengan perjalanan waktu kadang kala kita tidak lagi bisa membedakan mana yang seharusnya tidak boleh disentuh dan mana yang bisa dijadikan bahan pembicaraan dan bahkan becandaan.

Yang kadang kala membuat semuanya menjadi kompleks adalah bahwa kadang kita gak tau kita sedang menyinggung perasaan sahabat kita. Karena gak tau, terus menerus kita menyinggung perasaannya. Terlebih lagi jikalau ketika menyinggung perasaannya tersebut kita juga “mengajak” orang yang semula tidak tahu perihal yang menyinggung tersebut menjadi ikut-ikutan menyinggungnya. Orang yang kita ajak biasanya adalah orang yang menurut kita sepemikiran dengan kita.

Kita juga kadang kala tidak bisa membedakan mana yang rahasia, terlebih ketika persahabatan kita sudah demikian lama. Kita menjadi merasa bahwa segala sesuatunya adalah wajar untuk diketahui. Dan secara terang-terangan kita membuka rahasia sahabat kita di depan sahabat lain yang mungkin seharusnya tidak tahu dan tidak boleh tahu mengenai hal itu. Dan lagi-lagi itu dilakukan di luar kesadaran kita.

So, ketika sahabat yang kita singgung, kita buka rahasianya, kita olok-olok dan lain sebagainya tersebut tidak mau “melawan” dan membiarkan semuanya terjadi sambil berharap kitanya sadar, kemudian tidak tahan lagi, kita sebagai sahabat harus bisa berbesar hati untuk bisa meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Tapi ya karena gak sadar, apalagi dilakukan bareng-bareng dengan teman kita yang sepemikiran dengan kita, kadang kala permintaan maaf kita seperti tidak “ikhlas”. Kita sekedar ingin sahabat kita itu kembali bersama-sama kita lagi supaya terlihat segalanya baik-baik saja dan tanpa sadar kita kembali menyinggung perasaannya.

Lantas kita tentu juga gak mau disalahkan bukan? “Salah sendiri dia gak mau bilang kalau dia tersinggung, salah sendiri dia diem aja, salah sendiri dia uring-uringan sendiri. Terserah dia mau ngapain kek”

Ketika sudah sedemikian parahnya maka sudah tidak ada yang bisa dilakukan. Karena baik dia yang kita singgung maupun kita yang menyinggung akan tetap pada pendapatnya masing-masing dan merasa bahwa kedua belah pihak adalah orang yang paling patut disalahkan.

Tidak ada yang bisa memperbaikinya kecuali waktu.  Maafkan aku sahabatku.

“The best thing about the worse time of your life is that you got to see the true colors of everyone – Ina Madjidhan – 2015″

-bintaro, 26 Januari 2015-

 

Posted in office and etc | Tagged | Leave a comment

Hanya Langit yang tak Berbatas

Sering kita dengar dari orang yang merasa “underpaid” mereka selalu berujar “you pay peanut you get monkey”, loe bayar segitu ya loe dapetnya segini… jangan terlalu berharap banyak!

Seorang teman gue yang karirnya cukup cemerlang pernah berkata “loe kalo kerja jangan cuma sampe sebatas apa yang loe terima, loe kerjain apa yang loe mampu, walaupun menurut loe itu gak sebanding dengan gaji loe. Orang gak buta… dan itu akan kebawa kemana pun loe pergi.”

Teman gue ini setelah berkarir cukup baik pada akhirnya memilih untuk menjadi seorang pengusaha. Dan etos kerjanya yang dia katakan sama gue bertahun-tahun lalu tetap dia pegang. Berikan apa yang terbaik, walaupun kadang apa yang kita dapetin gak seimbang dengan upaya yang dikeluarkan.

Ketika istri gue pada akhirnya menjadi seorang pengusaha, hal ini lah yang kemudian menjadi momok. Baginya, etos kerja yang diberikan karyawannya sepertinya masih cuma sebatas gaji yang mereka terima. Ya walaupun sebagai pengusaha yang masih merintis usaha, kami cuma bisa membayar gaji mereka di batas bawah yang kami mampu.

Tapi ungkapan dan kalimat bekerja dan berikan lebih memang kadang ada batasnya. Adakalanya kita harus tau batas atas dan batas bawah diri kita sendiri. Berikan yang menjadi batas atas kita, tapi juga jangan melebihinya.

Masih mengambil contoh dari orang-orang terdekat. Seorang teman yang berprofesi sebagai seorang akuntan telah dengan sedemikian rupa memberikan apa yang dia mampu berikan kepada klien dan perusahaan tempat dia bekerja. Dia cukup berhasil dalam perjalanan karirnya. Namun, tanpa dia sadari penyakit menggerogoti tubuhnya. Hingga pada akhirnya dia tidak mampu lagi memberikan hasil terbaik dari apa yang dia bisa berikan.

Upaya maksimal memang memberikan hasil yang juga optimal. Etos kerja demikian memang diperlukan. Dan tentu gue juga setuju hal ini akan terus terbawa kemana pun dan di mana pun kita berkarya. Tapi, kadang kita juga harus membatasi diri untuk tidak memaksa diri.

Hanya Langit yang tak berbatas

-bierkof-

 

Posted in office and etc | Tagged | Leave a comment

Perjalanan ke Korea Selatan

Minggu lalu, untuk urusan pekerjaan gue kembali berkesempatan untuk mengunjungi negeri orang. Kali ini gue berkesempatan untuk bisa menginjakkan kaki di negeri ginseng. Sebetulnya ini adalah kunjungan gue yang kedua kali di negeri ginseng tersebut, tapi karena kunjungan yang sebelumnya gak sempat gue tulis di sini, maka izinkan gue tuk menceritakannya ya.

Keberangkatan

Gue dan 3 teman yang lain berangkat menggunakan airline tercinta Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 878, Direct Flight dari Soekarno Hatta menuju Bandara Incheon di Korea Selatan. Penerbangan ini ditempuh kurang lebih selama 7 jam, dari Jakarta jam 23:30 WIB dan mendarat di Incheon pada pukul 08:30AM. Terdapat perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Seoul, mereka lebih cepat 2 jam.

Yang menjadikan perjalanan kali ini cukup “mengkhawatirkan” adalah suhu di Korea Selatan sedang dingin-dinginnya. Ketika kami mendarat di sana suhunya mencapai minus 7 derajat. Bandingkan dengan suhu rata-rata di Jakarta yang berada pada kisaran 35-an derajat celcius.

Setelah mendarat, kami segera mengenakan jaket dan sarung tangan yang cukup tebal sebelum akhirnya keluar bandara dan menuju Lotte Hotel di Seoul. Sempat kaget merasakan betapa dinginnya suhu di bawah nol derajat ketika berjalan ke parkiran mobil. Tapi alhamdulillah mobil yang menjemput kami pemanasnya cukup baik.

Menunggu Check In

Perjalanan dari Bandara Incheon menuju Lotte Hotel di jantung kota Seoul memakan waktu lebih dari 1,5 jam. Namun, karena sudah memasuki masa libur, telah menyebabkan hotel tempat kami menginap penuh dan tidak bisa early check in. Dalam kondisi sedikit mengantuk, sedikit lapar dan udara yang cukup dingin akhirnya kami harus memilih berdiam diri di lobby hotel (yang gak ada kursinya sama sekali) atau memanfaatkan waktu luang kami yang cuma sedikit.

Kami memilih untuk memanfaatkan waktu menunggu untuk bisa check in tersebut dengan keluar dari hotel dan meuju Myongdong. Pasar yang banyak menjual barang-barang keperluan fashion dan kencantikan di Seoul yang kebetulan cuma selemparan batu dari tempat kami menginap. Kami menikmati window shopping di Myongdong, sambil sesekali masuk ke dalam toko untuk sekedar menghangatkan badan ;)

Pukul 12:00 kami mencoba peruntungan kembali ke Hotel, dan alhamdulillah kami sudah bisa check in (perkiraan sebelumnya kami baru bisa check in pada pukul 14:00). Bersih-bersih, ganti baju daleman, dan kami pun kembali siap menghadapi suhu di bawah nol derajat di luar hotel.

Doota dan Lotte World

Mengingat waktu kunjungan kami yang sangat singkat, maka mau tak mau hari Minggu yang dingin itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk mencari beberapa oleh-oleh yang akan kami bawa pulang. Salah satu toko yang menjual souvenir cukup lengkap dengan harga yang sedikit bersabat ada di Doota. Nama tokonya kalau tidak salah Arirang (gue lupa foto di sini. Uniknya toko ini, selain souvenirnya lengkap, penjaganya bisa berbahasa Indonesia juga bisa dibayar dengan Rupiah. Solusi tepat ketika belum sempat nuker Won bukan? ;)

Dari Doota, kami kembali ke hotel untuk menyimpan belanjaan dan kemudian lanjut lagi menggunakan subway ke Lotte World. Niatnya di Lotte World kami ingin berbelanja mainan dan makan-makanan kecil. Sayangnya Lotte Department St0re-nya justru tutup pada hari itu.

Salah Turun dan Salah Peron

1 hal yang membedakan Subway di Korea dengan di Singapura yakni tiket single tripnya tidak bisa dipakai lagi kalau kita turun sebelum tujuan dan atau salah peron. Kejadian ini kami alami ketika dari stasiun Euljiro 1-Ga kami hendak turun di stasiun Jamsil tempat Lotte World berada. Karena gak ngerti dan kurang hati-hati, kami turun 1 stasiun sebelumnya, dan kebingungan begitu keluar stasiun tempatnya gelap. Setelah nanya-nanya pakai bahasa Tarzan tunjuk-tunjuk ke peta, akhirnya kami sadar kami telah kecepatan 1 stasiun turunnya. Dan… kami pun harus kembali membeli tiket subway yang sama besarnya dengan harga dari Euljiro 1-Ga yang notabene lebih dari 10 stasiun jaraknya.

Pun, kejadian lucu terjadi lagi ketika kami hendak kembali ke hotel, kami salah masuk peron. Alih-alih kami masuk ke peron yang menuju Euljiro lagi, kami malah mengambil arah sebaliknya. Balik ke atas lagi ternyata gak bisa nyebrang ke peron yang seharusnya, sampai-sampai kami harus minta bantuan petugasnya tuk bisa kembali ke peron yang seharusnya… lagi-lagi dengan bahasa tubuh sekenanya yang penting ngerti ;)

Hari pun sudah menjelang malam ketika kami kembali sampai hotel dengan selamat ;)

Posted in office and etc | Tagged , | Leave a comment