Perjalanan ke Jaipur, India (Part 3)

Malam harinya, setelah acara seminar selesai, kami dibawa ke sebuah tempat bernama Dera Amer. Di sini kami disuguhi permainan polo sambil menunggangi unta serta kami bisa menaiki gajah. Gajah-gajah di sini ukurannya jauh lebih besar dari gajah Sumatera. Sebagaimana makan malam hari-hari sebelumnya, dinner baru terhidang setelah melewati jam 9 malam. Kami sampai pada kesimpulan bahwa memang orang India makan malamnya itu jam 9 malam.

Keesokan harinya, telah 4 hari kami di India. Segala kekhawatiran akan ketidaknyamanan, ketidakamanan selama di India pun pupus. Ya walaupun ini karena segala sesuatunya sudah disiapkan oleh panitia seminar. Mungkin tulisan ini akan berbeda kalau kami pergi sendiri tanpa ada yang menyediakan akomodasi dan transportasi.

Hari ini agenda kami adalah city tour. Sampai dengan keberangkatan rombongan, kami masih belum tau mau diajak kemana, sampai tour guidenya memberikan informasi bahwa kami akan mengunjungi Amber Fort, City Palace dan Hawa Mahal.

Amber Fort
Panas terik matahari mencapai 40 derajat celcius. Itu menurut aplikasi weather yang ada di handphone, mungkin lebih kalau diukur real-nya. Kami menaiki undak-undakan kecil dari tempat parker menuju ke atas. Di tengah langkah yang terengah-engah, kami harus ekstra waspada, karena jalan yang kami lalui juga menjadi jalan bagi gajah-gajah yang dicharter oleh wisatawan.

Gue tidak banyak memperhatikan apa yang diucapkan tour guide kami. Jadi kalo loe mau cari tahu apa itu latar belakang dan lain-lain, gak akan ketemu di sini hehehee…. Gue sibuk foto-foto sambil sesekali menyeka keringat yang lumayan mengucur deras membasahi badan.

Setelah puas menikmati pemandangan di Amber Fort, kami dibawa ke tempat makan siang, saya lupa namanya apa, tapi dalam perjalanan ke sana, kami juga sempat mengambil foto Jal Mahal, sebuah istana yang terendam air. Loh kok bisa istana di daerah yang amat sangat teramat panas bisa terendam air? Yup, danau (atau lebih tepatnya bendungan) yang merendam istana Jal Mahal memang dibuat oleh penguasa Amer demi membendung air disekitar istana hingga membentuk danau untuk memenuhi kebutuhan air bagi penduduk sekitar.

City Palace
Dari sekian bangunan yang kami kunjungi dari hari pertama hingga hari keempat ini, hanya bangunan City palace ini yang masih digunakan oleh si empunya, yakni Maharaja Jaipur. Menurut tour guide kami, Maharaja Jaipur yang saat ini bertahta, masih berumur 19 tahun dan tinggal di London, Inggris. Tapi orang tuanya masih tinggal di Istana ini.

Bangunan City Palace memiliki beberapa bangunan dan peruntukan. Ada yang digunakan untuk tempat perajin menjual hasil karyanya, ada yg digunakan untuk museum senjata, ada yang dijadikan museum baju-baju kebesaran (beneran ada yang emang gedaaaa banget bajunya, milik raja keberapa gitu yang beratnya lebih dari 200 kg).

Ada juga bangunan yang bisa disewakan sebagai tempat pesta pernikahan, letaknya di tengah. Di situ juga ada bejana yang gede banget, kabarnya buat minum Maharaja Sawai Madho Sing II ketika pergi ke Inggris menghadiri upacara naik tahta Pangeran Edward VII pada tahun 1901. Nah, raja Sawai Cuma mau minum air dari sungai Gangga, jadi lah dia bawa Bejana ini ke sana kemari (eh maksudnya ke Inggris trus dibawa pulang lagi gitu).

Dari City Palace kami mampir ke Hawa Mahal. Sebuah bangunan yang sebetulnya terintegrasi dengan City Palace. Dari sini Permaisuri, dan selir-selir raja melihat dunia luar. Kasian ya… hehehehe Nah, di sini sebetulnya kalo loe mau cari-cari oleh-oleh banyak dijual di pasar-pasar sekitar Hawa Mahal. Harganya murah kok menurut gue, ketimbang beli di dalem City Palace atau di Bandara.

[Bersambung]

Perjalanan ke Jaipur, India (Part 2)

Panas dan debu beterbangan menyambut kami di Bandara Jaipur. Kami dijemput oleh staf dari panitia penyelenggara acara seminar yang akan kami ikuti dalam 3 hari ke depan. Di sinilah kami baru menemukan the real India. Kondisi lalu lintas yang semrawut, klakson bersahutan, tidak ada yang mau mengalah, dan sepertinya kampas rem adalah spare part yang paling awet di sini, karena orang malas menginjak pedal rem dan lebih memilih menekan klakson sekeras mungkin.

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel tempat kami menginap, pemandangan kumuh dan berdebu tersaji nyata. Hampir tidak ada rerumputan hijau di sepanjang jalan. Sapi dan Babi yang banyak berkeliaran di jalanan lebih memilih memakan sampah sisa-sisa makanan yang dibuang sembarangan. Perjalanan selama kurang lebih 45 menit terasa begitu panjang.

Sesampainya di hotel Le Meridien, hotel tempat kami menginap dan berlangsungnya acara seminar, kami pun menemukan kondisi yang sangat kontras. Hotelnya bersih, nyaman, dan staf hotelnya pun sangat ramah.

Welcome Dinner
Acara hari itu sebenarnya belum resmi dimulai. Namun, malam harinya kami diundang untuk menghadiri welcome Dinner. Sambil saling bertukar kartu nama, saling berkenalan dan kami pun mencoba masakan India untuk pertama kalinya. Yesss… apa yang kami bayangkan semula bahwa kami akan menemukan kesulitan menemukan makanan yang cocok ternyata salah! Sebagian besar makanan yang tersaji bisa kami santap dengan lahap.

Seminar hari 1
Skip aja lah ya…. Udah ditulis di laporan buat kantor hehehehe

Gala Dinner
Jaigarh Fort, sebuah benteng yang berada di perbukitan Aravalli dan tepat berada di atas Amer Fort. Di sinilah gala dinner dilangsungkan. Sebetulnya acaranya berlangsung cukup seru, ada tari-tarian tradisional hingga kontemporer yang dibawakan oleh penari-penari professional hingga band yang membawakan lagu-lagu berbahasa India modern. Tapi….. ada satu hal yang rasanya cukup mengganggu. Dari awal Welcome Dinner sebetulnya jam mulai makan malamnya selalu di atas jam 9, dan kami belum menyadari hal itu. Pun demikian ketika gala dinner berlangsung. Makan malam baru dimulai setelah jam menunjukkan pukul 10 malam. Ya ampunnn…. Perut lapar, angina malam yang berhembus di atas bukit berpasir, lengkap sudah perjuangan kami malam itu menahan lapar 😉

Untungnya seperti welcome dinner, makanan yang tersaji sesuai selera…. Walaupun asam lambung sudah naik ke ubun-ubun, akhirnya kami pun makan. Gak pake lama, makanan tandas masuk ke perut. Tinggal kami menunggu untuk dibawa kembali ke hotel.

Seminar hari 2
Persiapan 2 minggu sebelum keberangkatan akhirnya selesai. Presentasi mengenai sistem investasi terpadu dan keberhasilan kami membangun dan menjalankannya menjadi kisah sukses yang kami bagikan kepada seluruh peserta seminar. Skip lah ya… biar nanti loe bisa baca setelah tulisannya terbit 😉

[Bersambung]

Perjalanan ke Jaipur, India (part 1)

Panas, kotor, dehidrasi, semrawut, kari, diare, kata-kata itu lah yang langsung terbayang dalam kepala gue ketika dikasih tau harus melakukan perjalanan ke India, tepatnya ke kota yang baru detik itu gue dengar, Jaipur. Sebuah perjalanan yang berat, ya itu lah yang langsung terpikir.

Beratnya perjalanan pun langsung gue dan teman-teman temukan ketika harus mencari penerbangan yang paling tepat dan nyaman untuk kami. Tidak ada penerbangan yang langsung mencapai kota Jaipur. Setelah menimbang-nimbang akhirnya kami memilih penerbangan dari Jakarta ke Singapura, kemudian ke Delhi dan dilanjutkan ke Jaipur. Yang membuat perjalanan kali ini lebih terasa berat adalah karena kami harus memulainya dari Malang ke Surabaya kemudian ke Jakarta. Kenapa? Karena gue dan teman-teman kebetulan sedang ada acara di Malang. Bandara Malang sedang ditutup pagi hari karena bersamaan dengan perayaan ulang tahun TNI AU. Jadilah kami harus memulai hari Minggu dengan perjalanan darat ke Surabaya dan dilanjutkan dengan pesawat ke Jakarta. Sesampainya kami di Jakarta, kami masih sempat untuk pulang terlebih dahulu, karena penerbangan ke Singapura baru akan boarding jam 20:00 malam.

Cekal
Setelah melakukan check in dan memasukkan bagasi, kami pun bergegas ke counter imigrasi. Gue, yang sudah mengaktifkan auto gate pun memilih untuk menggunakan auto gate karena tidak mengantri. Setelah beberapa kali melakukan scan passport, auto gate tidak mau terbuka sama sekali, gue terjebak di tengah-tengah. Lampu berwarna merah berkelap kelip di kotak tempat gue terjebak, hingga seorang petugas imigrasi menghampiri. “Selamat malam pak, bapak tidak bisa lewat sini, yuk lewat yang sebelah sana”

“Deg… kenapa ini….” Dada gue berdesir, gue berupa tuk tetap tenang, gak ada yang salah sama gue… visa, passport dan lain-lain semua udah gue cek dua hingga tiga kali. “Nama bapak sama dengan orang yang kami cekal, tapi bukan bapak, sampai pencekalan ini dicabut atau masalahnya selesai bapak akan tetap harus lewat sini ya, gak bisa lewat auto gate”

Sampai tulisan ini gue buat, gue masih belum tau permasalahan apa yang menimpa orang yang namanya sama dengan gue itu hingga harus dicekal.

Penerbangan Menuju Singapura
Ini adalah kali pertama gue naik Singapore Air. Satu hal yang menurut gue sedikit berbeda dengan maskapai lain yang pernah gue naikin yakni keramahan crew-nya. Entah kenapa orang singapura yang biasanya jutek dan to the point gak keliatan sama sekali hehehehe… well, gue puas lah, gak ada kendala sama sekali penerbangan ke Singapura. Sesampainya di Singapura, sekitar jam 11 malam, kami harus menunggu penerbangan berikutnya jam 02:35 dini hari. Gak banyak kegiatan yang kami lakukan, lebih banyak ngobrol ngalor ngidul membayangkan hal-hal yang dari awal ada di kepala kami…. Ya, kotor dan kacau serta panas ;p

Penerbangan Menuju Delhi dan Jaipur
Setelah gate boarding dibuka, kami mulai pemanasan dengan suasana India, hampir seluruh penumpang pesawat yang kami naiki bertampang India, dari yang berkulit hitam legam, agak putih, jenggot lebat, klimis dan tentu saja ada yang berturban. Satu hal yang semula kami antisipasi yakni aroma yang mmhhh… apa ya… ya gitu deh… ternyata belum terlalu kami temui di sini.
Penerbangan berlangsung lancar, gak banyak guncangan di atas sana, apalagi kami naik pesawat yang cukup besar yakni Airbus 330-300. Pukul 6:00 kami pun mendarat di bandara Delhi Gandhi. Pemandangan tandus tersaji melalui jendela pesawat. Melewati imigrasi India kami tidak menemui kendala yang berarti. Padahal kami tadinya sempat menyangka kami akan antri lama di sini, mungkin karena masih pagi-pagi sekali hingga belum banyak orang yang melewati gerbang imigrasi.

Dari terminal international, kami berpindah ke terminal domestik. Tempatnya tidak terlalu jauh, seluruh penjelasan arah cukup jelas bagi kami. Sebelum masuk ke terminal domestik kami pun menukar uang Rupee, karena kami harus menunggu cukup lama di sini, paling tidak cukup untuk makan pagi. Sekaligus juga untuk keperluan satu minggu ke depan selama kami di Jaipur. Kurs yang berlaku saat itu kurang lebih Rp 200 per 1 Rupee. Beberapa teman gue juga sekalian membeli SIM Card agar bisa tetap eksis di socmed.

Nah, di sini kami baru menemukan yang banyak ditulis di berbagai blog, bahwa penjagaan di Bandara India sangat ketat, kami harus melewati body cek yang cukup ketat. Bahkan temen gue yang cewek harus melewati pos penjagaan khusus yang tertutup agar bisa dicek seluruh badannya. Bra dengan kawat pun menjadi hal yang dicek oleh tentara yang menjaga, untungnya yang periksa cewek juga, kebayang dong kalo tentaranya cowok… hadeuhhh….

Kami pun harus menunggu sampai jam 12:05 untuk melanjutkan perjalanan ke Jaipur. Bandara Delhi Gandhi cukup besar dan bersih. Tidak ada kendala apapun selama kami menunggu di sini. On time, pukul 11:30 kami dipanggil untuk boarding, menggunakan maskapai Air India. Perjalanan ke Jaipur kami tempuh dalam waktu 50 menit. Walaupun hanya 50 menit, snack berupa biskuit dan air mineral tetap tersaji 😉

Satu hal yang menurut kami mengejutkan adalah cara pilot mendarat…. Pesawat berguncang cukup keras dan menikung yang gak pernah kami alami sebelumnya di maskapai tanah air. Entah lah, apa karena faktor angin yang berhembus cukup keras di daerah yang seperti gurun atau apa yang menyebabkan pesawat berguncang keras. Setelah pesawat mendarat pun, ketika di taxi menuju apron, pesawat melaju cukup kencang. Mungkin pilotnya bekas pilot pesawat tempur ;p

Kami pun akhirnya mendarat di Bandara Jaipur dengan disambut udara panas yang menyengat namun tidak lembab.

[bersambung]

Perjalanan ke Jambi

Ini adalah pertama kalinya gue menginjakan kaki di Propinsi Jambi. Sebuah propinsi yang berbatasan dengan Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan (Palembang). Kesan gue ketika baru turun dari pesawat “wah bandaranya bagus, tidak terlalu besar tapi pas, jadi gak mubazir. Ternyata Bandara Sultan Thaha baru saja diresmikan pada tanggal 21 Juli 2016, atau baru sekitar 3 bulan dipakai, pantas saja masih terlihat kinclong. Semoga bandara ini bisa terawat dengan baik.

Sepanjang perjalanan dari Bandara menuju tempat gue menginap, yang gue lihat adalah deretan ruko-ruko. Hampir sepanjang jalan adalah ruko, yang menurut pak Sopir yang menjemput gue, biasanya ruko tersebut juga menjadi tempat tinggal pemiliknya.

Sesampainya gue di Hotel, istirahat sebentar, trus gue memutuskan tuk cari makan. Setelah berdiskusi sama teman yang bareng-bareng ke sana akhirnya kami memutuskan untuk makan Mie Celor di Rumah Makan Rohma Jaya. Seporsi Mie Celor ternyata tidak membuat kami kenyang. Tambah lagi dengan empek-empek. Hehehehe… Wisata Kuliner tidak berhenti di situ, malam itu kami pun diajak mencicipi es Durian, kali ini kami makan es durian di Toko Pempek Terang Bulan.

Keesokan harinya, karena masih belum tahu, kami pun memulai hari dengan sarapan di Hotel. Jam 9 kami pun dijemput untuk menuju tempat acara pertama. Tapi sebelum sampai sana, kami diajak mampir untuk minum kopi terlebih dahulu di Warung Kopi Sari Rasa. Dannn….. lagi-lagi ada menu mie celor di sini hehehe… tapi karena kenyang akhirnya kami memilih hanya minum kopi. Kopi yang paling terkenal di Jambi namanya kopi AAA. Rasanya enak, dan tidak terlalu keras buat gue.

Karena acara hari itu berlangsung dari pagi hingga malam hari, maka makan siang dan makan malam kami tidak melakukan wisata kuliner kemana-mana. Pada malam harinya setelah selesai acara hari pertama kami pun mampir ke Jembatan Gentala Arasy. Jembatan ikonik khusus buat pejalan kaki.

Hari kedua, berbekal pengalaman hari pertama, kami pun memilih untuk tidak sarapan di hotel. Kami kembali berburu Mie Celor tapi di warung kopi sebelah dari warung kopi hari pertama. Ternyata mie Celornya jauh lebih enak daripada Mie Celor yang kami makan ketika kami baru sampai. Kopinya? Tetap kopi AAA ;p

Setelah acara pagi selesai, waktunya sholat Jumat. Kami pun memilih untuk sholat Jumat di masjid Agung Al Falah, Masjid 1000 tiang. Tiangnya banyak deh pokoknya… tapi gak sampai 1000 sie, sama lah kayak lawang sewu, disebut 1000 karena banyak jendelanya;p

Selesai sholat Jumat, perut pun lapar. Kami pun ingin mencoba makanan khas Jambi lainnya. Pilihan kami jatuh ke Kepala Ikan Baung. Rasa daging ikan ini mirip-mirip daging ayam kalo menurut gue. Tapi banyak lemak-lemaknya.

Karena acara hari itu kemudian berlanjut sampai malam, kami tidak sempat kemana-mana lagi. Kami Cuma sempat beli oleh-oleh di empek-empek Selamat di dekat hotel.

Liburan ke Hong Kong (Day 3) – 20160717

Hari ketiga adalah hari yang paling ditunggu-tunggu sama anak-anak. Yup, apalagi kalo bukan ke Disneyland Hong Kong. Sebelum gue lupa, ada 1 hal yang gue mau tulis di sini, yakni kalo pas ada paket promo dari Disney dan loe emang mau pergi ke sana dalam periode berlakunya tiket, jangan ragu-ragu tuk beli aja langsung. Kenapa? Karena kemarin itu ada paket promo 2 tiket dewasa gratis 1 tiket anak gak gue manfaatin karena begitu udah bulan Juli, promonya udah gak ada lagi. Padahal kalo pas Juni gue beli, itu tiket bisa gue pake kapan aja selama 6 bulan terhitung sejak tanggal dibeli. Menyesal? Ya iya lah ya hehehehe.

Continue reading “Liburan ke Hong Kong (Day 3) – 20160717”

Liburan ke Hong Kong (Day 2) – 20160716

Sesuai itinerary yang sudah kami siapkan, hari ini rencananya kami ingin ke the Peak dan Hong Kong Zoological and Botanical Garden, tapi setelah diskusi kami justru ingin ke Ngong Ping. Kenapa berubah? Karena anak-anak males foto-foto di trick eye museum dan udah pernah ke madame tussauds. Jadi ya sudah lah, nanti-nanti lagi aja ke HK island kalo dikasih rejeki dan kesehatan bisa balik lagi ke Hong Kong.

Continue reading “Liburan ke Hong Kong (Day 2) – 20160716”