Soulmate (2)

Tahun 2013 Rei pernah menulis dengan judul yang sama. Kali ini gue juga mau menulis dengan judul yang sama “soulmate”.

Tulisan gue ini berawal dari obrolan di sebuat chat group. Seorang teman gue ingin membahas mengenai sebuah quote (walaupun akhirnya gak dibahas juga karena teman gue ini sama sekali gak mengutarakan pendapatnya mengenai topik yang dia lempar). Quote-nya kurang lebih sebagai berikut:

“Kenapa seseorang yang amat sangat cocok ketika jadi teman tapi belum tentu cocok menjadi pasangan?” dan “Apakah Cinta punya tanggal Kadaluarsa?”

Kecocokan

Kadang kala kita merasa sangat cocok dengan seorang teman. Dari kecocokan obrolan, kecocokan hoby, kecocokan selera makan, kecocokan aliran musik dan banyak hal yang kita merasa sangat cocok dengan teman kita tersebut. Dari kecocokan-kecocokan ini, mulai timbul rasa suka, rasa ingin dekat, dan rasa-rasa lainnya yang kemudian sebutan hubungan pertemanan tidak lagi cocok.

Segala kecocokan tersebut membawa hubungan tersebut ke fase yang lebih intim dan lebih dekat. Kedua orang tersebut akan merasa bahwa pasangannya bisa mengerti apa yang dia maksud tanpa harus disampaikan secara verbal. Di sini lah letak awal muasal segala ketidakcocokan mulai muncul.

Bayangkan, bagaimana kita tahu apa yang orang lain mau, tanpa orang itu minta? Kita bukan peramal bukan?. Ketika merasa bahwa pasangan tidak lagi dapat mengerti apa yang kita mau, di situlah kekecewaan muncul, dan kemudian beranggapan bahwa banyak ketidakcocokan ketika sudah menjadi pasangan.

Inti dari semua ini adalah komunikasi.

Kadaluarsa

Banyak orang beranggapan bahwa Love is lasting forever. Benarkah?

….bersambung….

IDX Building – 11 Februari 2015

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Start a new Journey

Perubahan pasti terjadi. Satu-satunya yang tidak berubah yakni perubahan itu sendiri. Perubahan bisa membawa kita ke arah yang lebih baik namun perubahan juga bisa menjadikan segala sesuatu menjadi lebih buruk. Tinggal kita sendiri mau mengubah segala sesuatunya itu menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Perubahan sendiri tidak bisa datang dengan sendirinya. Perlu ada niat yang kuat dari dalam diri kita untuk selalu bisa berubah. Tentu berubah yang ke arah yang lebih baik. Alam semesta mengajarkan perubahan itu setiap hari. Matahari terbit mengubah dunia menjadi terang benderang, dan matahari tenggelam membawa dunia untuk beristirahat untuk kembali menyongsong matahari yang akan terbit kembali keesokan harinya. Hari yang lebih baik dari hari sebelumnya.

Per hari ini gue melakukan perubahan itu. Mengubah perjalanan karir yang telah gue mulai hampir 8 tahun yang lalu. Tidak mudah memang, namun perubahan itu sendiri adalah upaya untuk terus bisa meningkatkan kemampuan dan pengembangan diri gue sendiri. Semoga perubahan ini menjadi langkah awal yang lebih baik.

-Bierkof, Bintaro, 9 Februari 2015-

 

Posted in office and etc | Tagged | Leave a comment

Persahabatan (Selamanya)

Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa persahabatan seseorang itu biasanya hanya berumur 7 tahun. Bila persahabatan berumur lebih dari 7 tahun maka persahabatan tersebut akan berlangsung selamanya.

Dalam kurun waktu 7 tahun, dua orang atau lebih yang bersahabat bisa saling berbagi, bercerita, berbagi semua hal, termasuk hal-hal yang orang lain tidak boleh mengetahuinya. Seiring dengan perjalanan waktu kadang kala kita tidak lagi bisa membedakan mana yang seharusnya tidak boleh disentuh dan mana yang bisa dijadikan bahan pembicaraan dan bahkan becandaan.

Yang kadang kala membuat semuanya menjadi kompleks adalah bahwa kadang kita gak tau kita sedang menyinggung perasaan sahabat kita. Karena gak tau, terus menerus kita menyinggung perasaannya. Terlebih lagi jikalau ketika menyinggung perasaannya tersebut kita juga “mengajak” orang yang semula tidak tahu perihal yang menyinggung tersebut menjadi ikut-ikutan menyinggungnya. Orang yang kita ajak biasanya adalah orang yang menurut kita sepemikiran dengan kita.

Kita juga kadang kala tidak bisa membedakan mana yang rahasia, terlebih ketika persahabatan kita sudah demikian lama. Kita menjadi merasa bahwa segala sesuatunya adalah wajar untuk diketahui. Dan secara terang-terangan kita membuka rahasia sahabat kita di depan sahabat lain yang mungkin seharusnya tidak tahu dan tidak boleh tahu mengenai hal itu. Dan lagi-lagi itu dilakukan di luar kesadaran kita.

So, ketika sahabat yang kita singgung, kita buka rahasianya, kita olok-olok dan lain sebagainya tersebut tidak mau “melawan” dan membiarkan semuanya terjadi sambil berharap kitanya sadar, kemudian tidak tahan lagi, kita sebagai sahabat harus bisa berbesar hati untuk bisa meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Tapi ya karena gak sadar, apalagi dilakukan bareng-bareng dengan teman kita yang sepemikiran dengan kita, kadang kala permintaan maaf kita seperti tidak “ikhlas”. Kita sekedar ingin sahabat kita itu kembali bersama-sama kita lagi supaya terlihat segalanya baik-baik saja dan tanpa sadar kita kembali menyinggung perasaannya.

Lantas kita tentu juga gak mau disalahkan bukan? “Salah sendiri dia gak mau bilang kalau dia tersinggung, salah sendiri dia diem aja, salah sendiri dia uring-uringan sendiri. Terserah dia mau ngapain kek”

Ketika sudah sedemikian parahnya maka sudah tidak ada yang bisa dilakukan. Karena baik dia yang kita singgung maupun kita yang menyinggung akan tetap pada pendapatnya masing-masing dan merasa bahwa kedua belah pihak adalah orang yang paling patut disalahkan.

Tidak ada yang bisa memperbaikinya kecuali waktu.  Maafkan aku sahabatku.

“The best thing about the worse time of your life is that you got to see the true colors of everyone – Ina Madjidhan – 2015″

-bintaro, 26 Januari 2015-

 

Posted in office and etc | Tagged | Leave a comment

Hanya Langit yang tak Berbatas

Sering kita dengar dari orang yang merasa “underpaid” mereka selalu berujar “you pay peanut you get monkey”, loe bayar segitu ya loe dapetnya segini… jangan terlalu berharap banyak!

Seorang teman gue yang karirnya cukup cemerlang pernah berkata “loe kalo kerja jangan cuma sampe sebatas apa yang loe terima, loe kerjain apa yang loe mampu, walaupun menurut loe itu gak sebanding dengan gaji loe. Orang gak buta… dan itu akan kebawa kemana pun loe pergi.”

Teman gue ini setelah berkarir cukup baik pada akhirnya memilih untuk menjadi seorang pengusaha. Dan etos kerjanya yang dia katakan sama gue bertahun-tahun lalu tetap dia pegang. Berikan apa yang terbaik, walaupun kadang apa yang kita dapetin gak seimbang dengan upaya yang dikeluarkan.

Ketika istri gue pada akhirnya menjadi seorang pengusaha, hal ini lah yang kemudian menjadi momok. Baginya, etos kerja yang diberikan karyawannya sepertinya masih cuma sebatas gaji yang mereka terima. Ya walaupun sebagai pengusaha yang masih merintis usaha, kami cuma bisa membayar gaji mereka di batas bawah yang kami mampu.

Tapi ungkapan dan kalimat bekerja dan berikan lebih memang kadang ada batasnya. Adakalanya kita harus tau batas atas dan batas bawah diri kita sendiri. Berikan yang menjadi batas atas kita, tapi juga jangan melebihinya.

Masih mengambil contoh dari orang-orang terdekat. Seorang teman yang berprofesi sebagai seorang akuntan telah dengan sedemikian rupa memberikan apa yang dia mampu berikan kepada klien dan perusahaan tempat dia bekerja. Dia cukup berhasil dalam perjalanan karirnya. Namun, tanpa dia sadari penyakit menggerogoti tubuhnya. Hingga pada akhirnya dia tidak mampu lagi memberikan hasil terbaik dari apa yang dia bisa berikan.

Upaya maksimal memang memberikan hasil yang juga optimal. Etos kerja demikian memang diperlukan. Dan tentu gue juga setuju hal ini akan terus terbawa kemana pun dan di mana pun kita berkarya. Tapi, kadang kita juga harus membatasi diri untuk tidak memaksa diri.

Hanya Langit yang tak berbatas

-bierkof-

 

Posted in office and etc | Tagged | Leave a comment

Perjalanan ke Korea Selatan

Minggu lalu, untuk urusan pekerjaan gue kembali berkesempatan untuk mengunjungi negeri orang. Kali ini gue berkesempatan untuk bisa menginjakkan kaki di negeri ginseng. Sebetulnya ini adalah kunjungan gue yang kedua kali di negeri ginseng tersebut, tapi karena kunjungan yang sebelumnya gak sempat gue tulis di sini, maka izinkan gue tuk menceritakannya ya.

Keberangkatan

Gue dan 3 teman yang lain berangkat menggunakan airline tercinta Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 878, Direct Flight dari Soekarno Hatta menuju Bandara Incheon di Korea Selatan. Penerbangan ini ditempuh kurang lebih selama 7 jam, dari Jakarta jam 23:30 WIB dan mendarat di Incheon pada pukul 08:30AM. Terdapat perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Seoul, mereka lebih cepat 2 jam.

Yang menjadikan perjalanan kali ini cukup “mengkhawatirkan” adalah suhu di Korea Selatan sedang dingin-dinginnya. Ketika kami mendarat di sana suhunya mencapai minus 7 derajat. Bandingkan dengan suhu rata-rata di Jakarta yang berada pada kisaran 35-an derajat celcius.

Setelah mendarat, kami segera mengenakan jaket dan sarung tangan yang cukup tebal sebelum akhirnya keluar bandara dan menuju Lotte Hotel di Seoul. Sempat kaget merasakan betapa dinginnya suhu di bawah nol derajat ketika berjalan ke parkiran mobil. Tapi alhamdulillah mobil yang menjemput kami pemanasnya cukup baik.

Menunggu Check In

Perjalanan dari Bandara Incheon menuju Lotte Hotel di jantung kota Seoul memakan waktu lebih dari 1,5 jam. Namun, karena sudah memasuki masa libur, telah menyebabkan hotel tempat kami menginap penuh dan tidak bisa early check in. Dalam kondisi sedikit mengantuk, sedikit lapar dan udara yang cukup dingin akhirnya kami harus memilih berdiam diri di lobby hotel (yang gak ada kursinya sama sekali) atau memanfaatkan waktu luang kami yang cuma sedikit.

Kami memilih untuk memanfaatkan waktu menunggu untuk bisa check in tersebut dengan keluar dari hotel dan meuju Myongdong. Pasar yang banyak menjual barang-barang keperluan fashion dan kencantikan di Seoul yang kebetulan cuma selemparan batu dari tempat kami menginap. Kami menikmati window shopping di Myongdong, sambil sesekali masuk ke dalam toko untuk sekedar menghangatkan badan ;)

Pukul 12:00 kami mencoba peruntungan kembali ke Hotel, dan alhamdulillah kami sudah bisa check in (perkiraan sebelumnya kami baru bisa check in pada pukul 14:00). Bersih-bersih, ganti baju daleman, dan kami pun kembali siap menghadapi suhu di bawah nol derajat di luar hotel.

Doota dan Lotte World

Mengingat waktu kunjungan kami yang sangat singkat, maka mau tak mau hari Minggu yang dingin itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk mencari beberapa oleh-oleh yang akan kami bawa pulang. Salah satu toko yang menjual souvenir cukup lengkap dengan harga yang sedikit bersabat ada di Doota. Nama tokonya kalau tidak salah Arirang (gue lupa foto di sini. Uniknya toko ini, selain souvenirnya lengkap, penjaganya bisa berbahasa Indonesia juga bisa dibayar dengan Rupiah. Solusi tepat ketika belum sempat nuker Won bukan? ;)

Dari Doota, kami kembali ke hotel untuk menyimpan belanjaan dan kemudian lanjut lagi menggunakan subway ke Lotte World. Niatnya di Lotte World kami ingin berbelanja mainan dan makan-makanan kecil. Sayangnya Lotte Department St0re-nya justru tutup pada hari itu.

Salah Turun dan Salah Peron

1 hal yang membedakan Subway di Korea dengan di Singapura yakni tiket single tripnya tidak bisa dipakai lagi kalau kita turun sebelum tujuan dan atau salah peron. Kejadian ini kami alami ketika dari stasiun Euljiro 1-Ga kami hendak turun di stasiun Jamsil tempat Lotte World berada. Karena gak ngerti dan kurang hati-hati, kami turun 1 stasiun sebelumnya, dan kebingungan begitu keluar stasiun tempatnya gelap. Setelah nanya-nanya pakai bahasa Tarzan tunjuk-tunjuk ke peta, akhirnya kami sadar kami telah kecepatan 1 stasiun turunnya. Dan… kami pun harus kembali membeli tiket subway yang sama besarnya dengan harga dari Euljiro 1-Ga yang notabene lebih dari 10 stasiun jaraknya.

Pun, kejadian lucu terjadi lagi ketika kami hendak kembali ke hotel, kami salah masuk peron. Alih-alih kami masuk ke peron yang menuju Euljiro lagi, kami malah mengambil arah sebaliknya. Balik ke atas lagi ternyata gak bisa nyebrang ke peron yang seharusnya, sampai-sampai kami harus minta bantuan petugasnya tuk bisa kembali ke peron yang seharusnya… lagi-lagi dengan bahasa tubuh sekenanya yang penting ngerti ;)

Hari pun sudah menjelang malam ketika kami kembali sampai hotel dengan selamat ;)

Posted in office and etc | Tagged , | Leave a comment

Perjalanan ke Hong Kong dan Macau [Bagian 1]

Tulisan ini latepost banget, tapi gak apa-apa ya daripada gak ditulis sama sekali :)

Perjalanan kali ini masih Abidin, setelah sebelumnya ke Taiwan, kali ini ke Hong Kong dan Macau. Abidin? iya Atas Biaya Dinas ;p

Kalau waktu ke Taiwan acaranya adalah ikutan seminar sekaligus diskusi bareng TDCC, kali ini agendanya adalah ketemu pejabat-pejabat Hong Kong Stock Exchange dan juga HSBC Hong Kong. Perginya bareng Asosiasi Bank Kustodi Indonesia.

Kami berangkat malam dari Jakarta. Jam 23:00 kurang lebih, diperkirakan sampai di Hong Kong keesokan harinya, ya iya masa hari yang sama ;) . Sesampainya di sana, kami bersih-bersih, cuci muka, sikat gigi, lap-lap yg perlu dilap pake tissue basah, trus sarapan. Dim Sum yang biasanya gue gak suka akhirnya dihabeg juga, laper booo walaupun jam 4 pagi udah makan di pesawat.

Setelah kenyang, kami pun berangkat ke The Peak, buat ke Madame Tussauds. Foto-foto bareng patung-patung lilin. Gak ada yg istimewa di sini, kalah sama yang di Bangkok yang ada patung Bung Karno.

Setelah puas foto-foto sama patung, lanjut cari makan. Kami pun dibawa ke sebuah tempat makan seafood berupa restoran terapung. Namanya Jumbo Kingdom. Makanannya enak, harganya gak tau karena dibayarin sama panitianya ;)

Kenyang, jalan-jalan seharian belum selesai, sambil menuju ke hotel kami mampir di Avenue of Stars, ya foto-foto lagi lah sambil ngopi-ngopi manis di pinggirnya.

Karena hari masih cukup sore, dan hotel tempat kami menginap cukup jauh dari pusat kota, kami mampir di ladies market ;p hehehehe…. di sini saya gak foto sama sekali, males ngeluarin kamera, bahkan foto pake kamera handphone pun juga ngga.

Dari ladies market kami akhirnya di antar ke Hotel.

[bersambung]

Posted in office and etc | Tagged , | Leave a comment

Masa Kini dan Masa Depan

Pelan tapi pasti ilmu yang meresap ke dalam pembuluh darah ini mulai mendarah daging. Tidak ada lagi kesempatan untuk bisa melepaskan segala akibat dari kenekatan belajar ilmu ini. Ilmu yang bagi sebagian orang merupakan ilmu yang kadang dijauhi banyak orang ternyata malah perlahan namun pasti justru semakin erat mempengaruhi hidup ini.

Heehehe.. lebay ah. Jadi ceritanya, setelah lega karena telah lepas dari segala beban tugas akhir dan berhasil menyelesaikan studi Keuangan, gue dengan nekatnya kembali menantang diri sendiri dengan mengikuti program sertifikasi Financial Planner di tempat yang sama.

Beberapa materi yang dibahas gak jauh beda dengan ketika gue ngambil kuliah. Bedanya, kali ini lebih praktikal, segala rumus-rumus yang dulu dipelajari cuma diambil yang kira-kira kepake aja dalam mengatur keuangan sehari-hari. Rumus mengenai time value of money menjadi sumbu dari segala hal yang dipelajari dalam program ini.

Singkat cerita, setelah beberapa minggu mengikuti program ini, gue mulai dong mempraktekkan ilmu ini. Mulai lah gue membuat segala proyeksi mengenai biaya sekolah kedua anak gue. Proyeksi berapa kira-kira biaya masuk SD buat si bungsu, berapa kira-kira biaya masuk SMP buat si sulung, dan begitu seterusnya sampai keduanya menginjak ke bangku kuliah S1.

Sudah bisa ditebak, justru karena mempelajari ilmu ini malah bikin gue gak nyenyak tidur. Bayangkan, bila segala asumsi yang gue buat berjalan dan sesuai, maka total biaya pendidikan kedua anak gue ini mencapai lebih dari ½ miliar rupiah. Itu baru biaya pendidikan formal, belum yang lain.

Tapi walaupun gue jadi gak nyenyak tidur, paling tidak, gue punya target baru, yakni gimana caranya mencukupi kebutuhan biaya yang luar biasanya gedenya ini. Nilai yang tadi gue sebutin di atas itu bisa disebut dengan future value, yang kemudian gue tarik ke masa sekarang kira-kira nilainya berapa, yang disebut dengan present value. Hasilnya? Tetap gue gak punya uang sebanyak itu. Trus? Ya terpaksa harus dicicil.

Mau tau gimana cara ngitungnya? Tunggu di tulisan berikutnya ya :)

-bierkof-

IDX Building, 26 Pebruari 2014

Posted in Finance | Tagged , , | Leave a comment

Jebakan Kelas Menengah

Sekitar 1 tahun yang lalu, gue pernah bikin paper mengenai bonus demografi. Bonus yang sedang dialami bangsa kita. Bonus yang juga pernah didapat oleh Jepang dan Korea pada beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi tulisan gue kali ini adalah rangkuman mengenai seminar yang kemarin baru aja gue ikutin atas undangan dari Kementrian Keuangan sebagai penyelenggara bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Apa itu bonus demografi? Bonus Demografi Indonesia yakni kenyataan bahwa 2/3 penduduk Indonesia berusia 15-64 tahun.  Malah yang berusia 15-49 tahun, jumlahnya 55%. Bisa dibayangkan betapa Indonesia bisa sangat produktif.

Keadaan ini diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2030. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh McKinsey (2012), pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar nomor 7 di Dunia.  Jadi masih ada sekitar 16 tahun lagi dimana Indonesia akan menjadi kekuatan baru ekonomi dunia.

Nah… masalahnya adalah apakah benar kita bisa mencapainya dengan segala resources yang kita miliki saat ini. Atau jangan-jangan kita akan terjebak menjadi negara yang selamanya menjadi negara dengan penduduk berpenghasilan menengah tanpa pernah bisa menjadi negara maju di bidang ekonomi (Middle Income Trap/MIT).

Keynote Speaker pertama, Bapak Darmin Nasution menyampaikan bahwa Pekerjaan Rumah terbesar supaya Indonesia tidak terjebak menjadi  MIT yakni:

  1. Human Capital
  2. Kelembagaan

Darmin Nasution menyampaikan bahwa pada tahun 1960, Korea Selatan kondisi Human Capitalnya tidak lebih baik dari Indonesia. Sekarang? Korea sudah menjadi kekuatan baru dunia.

Karena forum seminar ini adalah forumnya ekonom, maka kelembagaan yang ditunjuk oleh Darmin Nasution adalah PASAR. Pasar di Indonesia belum efisien, termasuk pasar keuangannya.

Keynote speaker berikutnya yakni Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional ibu Armida Alisjahbana juga menyampaikan hal yang kurang lebih sama dengan yang disampaikan Darmin Nasution.

Dan giliran keynote speaker ketiga yang paling gue tunggu, Menteri Keuangan Bapak Chatib Basri.

Chatib Basri membuka dengan kenyataan bahwa Indonesia saat ini menghadapi defisit Current Account yang merupakan refleksi dari kelebihan permintaan. Solusi untuk mengatasi defisit ini ada 2 yang bisa segera dilakukan oleh Pemerintah:

  1. Menambah Penawaran (Supply)
  2. Mengurangi Permintaan (Demand)

Segala macam buku teks mikro/makro langsung terbayang dalam kepala gue mendengar Chatib Basri menyampaikan 2 hal tersebut di atas. Bagusnya Pak Menteri tidak membahas gimana caranya menggeser kurva permintaan…. Atau seberapa elastis kurva itu terhadap harga barang…. Hehehehe

Chatib Basri menyampaikan solusi cepat, yang bisa ditempuh olehnya karena memang dia menjabat menjadi Menteri Keuangan pada saat semuanya sudah menjadi runyam J

Menambah supply tentu bukan menjadi pilihan utama. Karena apa? Karena gak gampang. Main Clash of Clans aja kalo mau nambah supply gold kudu bikin dulu, nah ini supply untuk memenuhi konsumsi 1 negara… butuh waktu, tapi paling tidak ini akan menjadi prioritas menengah dan panjang.

Langkah yang paling cepat bisa dilakukan yakni mengurangi demand….

Nah ini yang suka gue twit kemarin-kemarin ini ketika gak ada angin gak ada ujan (halah) Bank Indonesia menaikkan tingkat suku bunga hingga mencapai 7,5% padahal tingkat inflasi sudah mulai stabil setelah sebelumnya sempat bergejolak akibat kenaikan BBM. Jadi BI dan Kemenkeu melakukan pengetatan fiskal dan menaikkan interest rate untuk mengerem demand. Pedal Rem diinjak kuat-kuat. Wajar aja kalau terjadi overstir berupa turunnya IHSG dan nilai tukar mata uang kita ya walaupun ini kayak ngomongin telur atau ayam duluan yang hadir di muka bumi ini.

Solusi berupa pengereman demand di atas gak bisa dilakukan terus menerus. Karena akibatnya selain yang gue sebut di atas, pertumbuhan ekonomi juga akan berantakan. Padahal kan kita lagi mengalami bonus demografi.

Chatib Basri menyampaikan bahwa 5 s.d 10 tahun yang akan datang, harga komoditas akan turun akibat adanya penemuan-penemuan sumber energi baru. Bila ini terjadi, maka negara-negara yang tadinya sangat tergantung pada sumber energi menjadi less dependend. Artinya, eksport negara-negara penghasil energi akan menurun. Indonesia pun diramalkan pada tahun 2015 – 2020 akan menjadi negara tetap net importir BBM. Maka apa yang disampaikan Darmin Nasution seperti mendapat konfirmasi bahwa pembangunan human capital menjadi sangat penting.

Saat ini pemerintah sedang menggodok untuk memberikan insentif bagi sektor swasta yang melakukan Research and Development di Indonesia. Akan ada pengurangan pajak bagi yang melakukannya.

Selanjutnya seminar pun dilanjutkan dengan pembica-pembicara yang juga gak kalah kualitasnya. Tuk lebih jelas monggo bisa didonlot di sini.

-bierkof-

IDX building 10 Februari 2014

 

Posted in Finance | Tagged , , | Leave a comment

Bahagia yang Benar-benar Sederhana

Sepanjang hari ini, aku sudah banyak mengeluh.
Mengeluh waktu makan siang yang tertunda, waktu pulang kantor, hingga mengeluh tentang macetnya jalanan yang akan membuatku melewatkan acara “Snow Leopards of Leafy London” di salah satu saluran tv.

Bis kota yang aku naiki malam ini cukup penuh dengan manusia-manusia berwajah letih, dan raut wajah memandang kejauhan seakan sudah cukup penat dengan kesibukan hari ini. Namun di tengah perjalanan, mataku tertuju pada seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 7 tahun, berdiri terhimpit diantara penumpang dewasa, dengan wajah penuh keringat yang sesekali diusapnya dengan tangannya yang kecil. ia berdiri disamping ibunya yang duduk menggendong seorang bayi, sambil mengipas-ngipaskan sebuah topi, yang tentu saja, hanya menghasilkan secuil angin.

Tidak tega melihatnya, aku memberikan tempat dudukku yang tepat di samping jendela. Dengan muka yang senang, Ia berterima kasih, lalu menikmati “seat” di samping jendela berbonus angin sepoi.

Dari sedikit obrolan dengan Ibunya, aku mengetahui bahwa mereka baru saja pulang mengamen. Saat libu sekolah seperti hari ini, ia membantu ibunya hingga malam hari sampai suaranya serak dan tak bersuara. Namun ia tak mengeluh. “Suaraku habis mbak, habis nyanyi keras-keras supaya dapet uang banyak,” katanya tanpa sedikitpun malu. Tak heran ia tampak sangat lelah. Bayangkan saja, anak kelas 2 SD harus mengamen hingga malam hari demi membantu kehidupan keluarganya. Rasanya tercekat saat aku mendengarnya.

Entah berapa banyak obrolan kurang pemting seputar kehidupan antara aku dan sang Ibu, hingga mereka sampai di tempat tujuan lebih dahulu. sebelum turun, anak lelaki itu berbalik badan, dan sekali lagi tersenyum lebar padaku sambil sekali lagi mengucapkan “Makasih ya, Mbak..”

Malam ini, aku hanya memberikan sebuah kursi di dalam bis kota. Namun kebahagiaan yang aku dapatkan kembali, tidak terhitung rasanya. Kebahagiaan akan menjadi diri sendiri, kebahagiaan dengan segala kecukupan yang diberikan Tuhan, dan kebahagiaan telah mengenal dan memberikan tempat duduk kepada bocah 7 tahun yang sudah lelah membantu kehidupan orangtuanya.

 

#Bliss

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Taiwan (2)

Hari kedua kunjungan kami ke Taiwan dimulai dengan membahas mengenai infrastruktur IT di Taiwan Depository and Clearing Corporation (TDCC). Banyak hal yang membuat kami berdecak terhadap infrastruktur yang digunakan oleh mereka. Salah satunya yakni mereka masih menggunakan bahasa pemrograman Cobol. Buat yang gak tau Cobol itu apa, hari ini hari lahir salah satu penciptanya sedang dirayakan :)

Setelah diskusi mengenai infrastruktur IT mereka, kami diajak mengunjungi Taiwan Stock Museum. Fyi, Taiwan sudah 100% mengimplementasikan perdagangan saham secara scriptless dan entah siapa yang memulai ide, saham-saham yang masih berbentuk kertas dan tidak digunakan lagi kemudian dijadikan semacam barang peninggalan bersejarah dan dimuseumkan. Sementara di Indonesia, entah kemana itu saham-saham yang sudah di-scriptless-kan. Di sini kami seperti dejavu dengan kondisi pasar modal di Indonesia sekitar 13-15 tahun yang lalu. Saham-saham dalam bentuk kertas bertumpuk-tumpuk menunggu diverifikasi dan diserahterimakan dari penjual ke pembeli. Mungkin kalau sekarang masih seperti itu, bisa 7×24 jam kantor tempat saya bekerja akan beroperasi menangani transaksi yang rata-rata per hari sebesar Rp 6,3 triliun. Museum ini bertujuan supaya generasi muda saat ini yang tidak pernah mengenal saham itu dulunya seperti apa bisa belajar.

Kunjungan ke Taiwan Stock Museum pun berakhir. Kami pun berpamitan kepada rekan-rekan di TDCC yang telah meluangkan waktunya untuk berdiskusi bersama kami. Agenda kami selanjutnya adalah jalan-jalann….. yipiiieee… Kami kemudian diantar seorang tour guide bernama Marion menuju Shifen Old Street. Sebuah perkampungan di daerah distrik Pingxi. Seperti hari pertama, Shifen Old Street juga berada di dataran tinggi, bedanya di sini tukang jualan mulai dari souvenir, makanan, hingga Seven Eleven ada! Tidak menyia-nyiakan waktu yg ada, karena sebagian dari kami akan pulang keesokan harinya kami pun menyempatkan untuk membeli beberapa oleh-oleh yang mudah kami bawa, mengingat koper kami sudah penuh dengan materi diskusi dan jaket yang cukup menyita ruang koper.

Setelah makan siang yang sedikit terlambat karena perjalanan ke sini ditempuh hampir 1 jam dari kantor TDCC, dilanjutkan dengan menyusuri gang-gang sempit di Shifen Old Street untuk berbelanja, kami pun kemudian turun ke Pinxi untuk menerbangkan lampion. Lampion yang kami terbangkan berukuran cukup besar hingga kami semua bisa menuliskan keinginan kami di lampion yang akan kami terbangkan :)

Hari pun mulai menjelang malam. Kami memutuskan untuk segera kembali ke Taipei untuk makan malam. Pilihan menu makan malam kami kali ini agak nyeleneh, yakni ayam cemani dibuat seperti soup. Rasanya gurih…. walaupun rada susah menelannya karena terbayang wajah mbah dukun di Indonesia yang gemar meminta persembahan ayam cemani :p

Setengah kenyang (karena jujur mulai sukar menelannya lagi), karena Bayu dan Radyt masih ingin berbelanja oleh-oleh kami pun mampir ke night market lagi hehehe… Night market yang kami kunjungi kali ini yakni Raohe St. Night Market ini berada tepat di belakang Ciyou Temple. Bayu dan Radyt pun kembali memuaskan hasrat berbelanja mereka di sini.

-bersambung-

bierkof, EV Bintaro IX

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment